yunus

nabi yunus

BERSEMANGAT UNTUK MENGAMPUNI (YUNUS)

Yunus

BERSEMANGANT UNTUK MENGAMPUNI (YUNUS)


Sabat Petang

Bacalah Untuk Pelajaran Pekan Ini: Yunus 1-4; Mzm. 139:1-12; Yes. 42:5; Wah. 10:6; Mat. 12:39-41; 2 Kor. 36:15-17.

Ayat Hafalan :” Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kuper­sembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!” (Yunus 2:9)

Pokok Pikiran: Buku Yunus menyatakan, di antara hal-hal yang lain, bahwa Allah lebih berkemauan untuk menolong orang lain dari pada kita.

Cerita Yunus, ini bukan jurukabar Allah yang biasa, ia adalah seseorang yang sangat dikenal dalam Alkitab. Yunus diutus oleh Allah untuk mem­peringatkan kehancuran Niniwe yang akan datang. Dia curiga bahwa orang non Ibrani ini akan bertobat dari dosanya dan bahwa Allah akan meng­ampuni mereka. Menjadi seorang nabi yang benar, Yunus tahu, bahwa Allah akan menyelamatkan Niniwe, bukan menghancurkannya. Itulah mungkin se­babnya mengapa dia, pada mulanya, berusaha melarikan diri. Karena memaksa melebihi kendalinya, namun Yunus mengubah pemikirannya dan mengikuti perintah Tuhan.

Dalam menanggapi khotbah Yunus, seluruh kota itu percaya dan bertobat dalam cara yang mana, malangnya, Israel dan Yehuda tidak melakukannya. Yunus, sementara itu, memiliki banyak pelajaran yang akan dipelajari. Cerita ini menunjukkan bagaimanakah Allah dengan sabarnya mengajar nabi yang keras kepala dan picik dan apakah kasih, kemurahan dan pengampunan itu.

Minggu

NABI YANG TIDAK MENURUT (YUNUS 1)

Tidak banyak yang diketahui tentang Yunus atau latar belakang keluarga­nya. 2 Raja-raja 14:25 mengatakan bahwa dia hidup di bagian utara Israel dan melayani selama abad delapan S.M. Ayat yang sama menunjukkan bahwa Yu­nus memperkirakan penambahan wilayah dari kerajaan Israel.

Niniwe secara sejarah adalah satu dari tiga kota besar di Asyur, kota pen­ting yang terletak di sekitar Sungai Tigris. Karena Allah adalah Allah untuk se­mua bangsa dan semua manusia bertanggung jawab kepada-Nya (Amos 12), Dia mengutus hamba-Nya Yunus untuk memperingatkan kehancuran orang Niniwe akan datang. Perintah Allah tercatat dalam Yunus 1:2 untuk “Berseru terhadap mereka” dapat juga diartikan “berseru untuk itu.”

Kekejaman Asyur sudah terkenal. Satu abad kemudian, nabi Nahum me­nyebut Niniwe sebagai “kota berdarah… penuh dusta dan perampasan” (Nah. 3:1). Yunus diutus untuk menyampaikan pesan Allah kepada orang-orang se­perti itu. Di antara hal yang lain, mungkin takut terhadap orang Asyur yang di- benci yang membuat Yunus bersikap seperti itu. Ketika disuruh Allah untuk mengadakan perjalanan ke timur ke arah Niniwe, dia menolak dan mencoba melarikan diri ke barat melalui kapal ke Tarsus.

Awalnya, semuanya berjalan dengan baik, tetapi ketika Allah mengirim­kan badai yang besar untuk mengajar hamba-Nya sebuah pelajaran bahwa ti­dak ada yang dapat bersembunyi dari Allah.

Yunus lari dari Allah karena dia tidak mau melakukan kemauan Allah. Bah­kan sekarang orang-orang memiliki alasan yang banyak untuk mencoba me­larikan diri dari Allah. Beberapa orang melakukannya karena tidak mengenal Allah secara pribadi. Yang lain menolak bahkan gambaran akan Allah dan Firman-Nya; sementara motivasi mereka berbeda, dalam banyak hal mereka me­lakukannya supaya tidak merasa bersalah akan jalan yang mereka hidupkan. Akhirnya, jika tidak ada kekuatan yang lebih tinggi untuk menjawab, mengapa tidak melakukan apa saja yang kamu inginkan? Ada, bahkan orang Kristen yang menghindari Allah ketika Dia memanggil mereka untuk melakukan sesu­atu yang mereka tidak ingin lakukan, sesuatu yang menentang sifat egois dan penuh dosa.

Baca Mazmur 139:1-12. Apakah pekabaran mendasar bagi kita di sana? Perasaan seperti apakah yang timbul dalam dirimu oleh karena dasar kebenaran ini? Atau melihat hal itu dengan cara ini: Kita percaya bahwa Allah tidak hanya melihat semua yang kita lakukan tetapi bahkan mengetahui pikiran kita. Apakah kita menghidupkannya dengan kesa­daran yang terus menerus atau kita cenderung untuk mencoba dan me­ngotori pikiran kita? Atau mungkin, kita begitu terbiasa kepada pemi­kiran di mana kita tidak begitu memberikan perhatian atasnya? Apa pun alasannya, seberapa berbedakah tindakanmu jika setiap saat, kamu ha­rus tanggap kepada fakta bahwa Allah mengetahui semua pikiranmu?

Mazmur 139:1-12

139:1. Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;

139:2 Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.

139:3 Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.

139:4 Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.

139:5 Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.

139:6 Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.

139:7. Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?

139:8 Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.

139:9 Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,

139:10 juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.

139:11 Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,”

139:12 maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.

Senin

SAKSI YANG ENGGAN

Dalam Yunus 1, Tuhan ingin menghentikan pelarian Yunus sehingga Dia menimbulkan badai yang hebat yang mengancam kapal karam. Para pelaut berdoa minta pertolongan kepada dewa mereka. Karena badai yang begitu he­bat, mereka merasa bahwa seseorang telah menyebabkan kemarahan dewa. Mereka membuang undi untuk memutuskan siapa yang dengan sukarela mem­beritahukan tentang dirinya yang melakukan kesalahan. Untuk mengundi, se­tiap orang membawa batu dikenal atau kayu yang telah ditandai. Semuanya dibuat dalam satu tempat dan digoncang hingga salah satu keluar. Undian ja­tuh kepada Yunus, yang sekarang mengakui dosanya dan mendesak pelaut itu membuang dirinya ke laut.

Cerita ini begitu luar biasa karena tindakan positif para pelaut non Ibra­ni, sementara Yunus memberikan terang yang negatif. Sekalipun mereka me­nyembah banyak dewa, para pelaut itu menunjukkan sikap hormat yang tinggi terhadap Tuhan yang mereka sembah. Mereka juga bersikap lembut terhadap hamba Tuhan, Yunus, itulah yang membuat mengapa mereka berusaha kem­bali ke daratan. Akhirnya, mereka setuju dengan Yunus bahwa dia harus dilem­parkan keluar. Dengan melakukan ini, badai berhenti dan pelaut menyembah Tuhan dan memuji-Nya.