yunus

nabi yunus

BERSEMANGAT UNTUK MENGAMPUNI (YUNUS)

Yunus

BERSEMANGANT UNTUK MENGAMPUNI (YUNUS)


Sabat Petang

Bacalah Untuk Pelajaran Pekan Ini: Yunus 1-4; Mzm. 139:1-12; Yes. 42:5; Wah. 10:6; Mat. 12:39-41; 2 Kor. 36:15-17.

Ayat Hafalan :” Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kuper­sembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!” (Yunus 2:9)

Pokok Pikiran: Buku Yunus menyatakan, di antara hal-hal yang lain, bahwa Allah lebih berkemauan untuk menolong orang lain dari pada kita.

Cerita Yunus, ini bukan jurukabar Allah yang biasa, ia adalah seseorang yang sangat dikenal dalam Alkitab. Yunus diutus oleh Allah untuk mem­peringatkan kehancuran Niniwe yang akan datang. Dia curiga bahwa orang non Ibrani ini akan bertobat dari dosanya dan bahwa Allah akan meng­ampuni mereka. Menjadi seorang nabi yang benar, Yunus tahu, bahwa Allah akan menyelamatkan Niniwe, bukan menghancurkannya. Itulah mungkin se­babnya mengapa dia, pada mulanya, berusaha melarikan diri. Karena memaksa melebihi kendalinya, namun Yunus mengubah pemikirannya dan mengikuti perintah Tuhan.

Dalam menanggapi khotbah Yunus, seluruh kota itu percaya dan bertobat dalam cara yang mana, malangnya, Israel dan Yehuda tidak melakukannya. Yunus, sementara itu, memiliki banyak pelajaran yang akan dipelajari. Cerita ini menunjukkan bagaimanakah Allah dengan sabarnya mengajar nabi yang keras kepala dan picik dan apakah kasih, kemurahan dan pengampunan itu.

Minggu

NABI YANG TIDAK MENURUT (YUNUS 1)

Tidak banyak yang diketahui tentang Yunus atau latar belakang keluarga­nya. 2 Raja-raja 14:25 mengatakan bahwa dia hidup di bagian utara Israel dan melayani selama abad delapan S.M. Ayat yang sama menunjukkan bahwa Yu­nus memperkirakan penambahan wilayah dari kerajaan Israel.

Niniwe secara sejarah adalah satu dari tiga kota besar di Asyur, kota pen­ting yang terletak di sekitar Sungai Tigris. Karena Allah adalah Allah untuk se­mua bangsa dan semua manusia bertanggung jawab kepada-Nya (Amos 12), Dia mengutus hamba-Nya Yunus untuk memperingatkan kehancuran orang Niniwe akan datang. Perintah Allah tercatat dalam Yunus 1:2 untuk “Berseru terhadap mereka” dapat juga diartikan “berseru untuk itu.”

Kekejaman Asyur sudah terkenal. Satu abad kemudian, nabi Nahum me­nyebut Niniwe sebagai “kota berdarah… penuh dusta dan perampasan” (Nah. 3:1). Yunus diutus untuk menyampaikan pesan Allah kepada orang-orang se­perti itu. Di antara hal yang lain, mungkin takut terhadap orang Asyur yang di- benci yang membuat Yunus bersikap seperti itu. Ketika disuruh Allah untuk mengadakan perjalanan ke timur ke arah Niniwe, dia menolak dan mencoba melarikan diri ke barat melalui kapal ke Tarsus.

Awalnya, semuanya berjalan dengan baik, tetapi ketika Allah mengirim­kan badai yang besar untuk mengajar hamba-Nya sebuah pelajaran bahwa ti­dak ada yang dapat bersembunyi dari Allah.

Yunus lari dari Allah karena dia tidak mau melakukan kemauan Allah. Bah­kan sekarang orang-orang memiliki alasan yang banyak untuk mencoba me­larikan diri dari Allah. Beberapa orang melakukannya karena tidak mengenal Allah secara pribadi. Yang lain menolak bahkan gambaran akan Allah dan Firman-Nya; sementara motivasi mereka berbeda, dalam banyak hal mereka me­lakukannya supaya tidak merasa bersalah akan jalan yang mereka hidupkan. Akhirnya, jika tidak ada kekuatan yang lebih tinggi untuk menjawab, mengapa tidak melakukan apa saja yang kamu inginkan? Ada, bahkan orang Kristen yang menghindari Allah ketika Dia memanggil mereka untuk melakukan sesu­atu yang mereka tidak ingin lakukan, sesuatu yang menentang sifat egois dan penuh dosa.

Baca Mazmur 139:1-12. Apakah pekabaran mendasar bagi kita di sana? Perasaan seperti apakah yang timbul dalam dirimu oleh karena dasar kebenaran ini? Atau melihat hal itu dengan cara ini: Kita percaya bahwa Allah tidak hanya melihat semua yang kita lakukan tetapi bahkan mengetahui pikiran kita. Apakah kita menghidupkannya dengan kesa­daran yang terus menerus atau kita cenderung untuk mencoba dan me­ngotori pikiran kita? Atau mungkin, kita begitu terbiasa kepada pemi­kiran di mana kita tidak begitu memberikan perhatian atasnya? Apa pun alasannya, seberapa berbedakah tindakanmu jika setiap saat, kamu ha­rus tanggap kepada fakta bahwa Allah mengetahui semua pikiranmu?

Mazmur 139:1-12

139:1. Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;

139:2 Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.

139:3 Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.

139:4 Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.

139:5 Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.

139:6 Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.

139:7. Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?

139:8 Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.

139:9 Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,

139:10 juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.

139:11 Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,”

139:12 maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.

Senin

SAKSI YANG ENGGAN

Dalam Yunus 1, Tuhan ingin menghentikan pelarian Yunus sehingga Dia menimbulkan badai yang hebat yang mengancam kapal karam. Para pelaut berdoa minta pertolongan kepada dewa mereka. Karena badai yang begitu he­bat, mereka merasa bahwa seseorang telah menyebabkan kemarahan dewa. Mereka membuang undi untuk memutuskan siapa yang dengan sukarela mem­beritahukan tentang dirinya yang melakukan kesalahan. Untuk mengundi, se­tiap orang membawa batu dikenal atau kayu yang telah ditandai. Semuanya dibuat dalam satu tempat dan digoncang hingga salah satu keluar. Undian ja­tuh kepada Yunus, yang sekarang mengakui dosanya dan mendesak pelaut itu membuang dirinya ke laut.

Cerita ini begitu luar biasa karena tindakan positif para pelaut non Ibra­ni, sementara Yunus memberikan terang yang negatif. Sekalipun mereka me­nyembah banyak dewa, para pelaut itu menunjukkan sikap hormat yang tinggi terhadap Tuhan yang mereka sembah. Mereka juga bersikap lembut terhadap hamba Tuhan, Yunus, itulah yang membuat mengapa mereka berusaha kem­bali ke daratan. Akhirnya, mereka setuju dengan Yunus bahwa dia harus dilem­parkan keluar. Dengan melakukan ini, badai berhenti dan pelaut menyembah Tuhan dan memuji-Nya.

Dalam ayat 9, bagaimanakah Yunus menggambarkan Tuhan yang di­katakan ditakutinya? Apakah yang penting tentang bagaimana ia meng­gambarkan Tuhan? Lihat juga Why. 14:7; Yes. 42:5; Why. 10:6.

Yunus 1:9 Sahutnya kepada mereka: “Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan.”

Why. 14:7;

14:7 dan ia berseru dengan suara nyaring: “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.”

Yes. 42:5;

42:5. Beginilah firman Allah, TUHAN, yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya:

Why. 10:6

10:6 dan ia bersumpah demi Dia yang hidup sampai selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya, katanya: “Tidak akan ada penundaan lagi!

Pengakuan iman Yunus di dalam Allah sebagai Pencipta laut dan darat, menggarisbawahi bahwa adalah sia-sia melarikan diri dari hadapan Allah. Ba­dai yang berhenti tiba-tiba setelah mereka melemparkan Yunus menunjukkan bahwa Tuhanlah Pencipta dan yang mengatur lautan. Karena ini, pelaut me­nyembah Tuhan. Berapa lama rasa takut yang baru mereka dapatkan dan rasa hormat mereka kepada Pencipta bertahan, tidak disebutkan. Tidak ada kera­guan, bagaimanapun juga, mereka telah mempelajari sesuatu tentang Dia dari pengalaman ini.

Kita bisa saja tidak memahami semua keajaiban yang ada di sekitar kita, apalagi semua itu di luar akal bahkan imajinasi kita. Bagaimanakah Pencipta berbicara kepadamu melalui apa yang Dia telah buat?

Selasa

MAZMUR YUNUS

Ketika Yunus dilemparkan ke dalam laut, ikan yang besar, menelan dia atas suruhan Allah. Yunus pasti memiliki pemikiran bahwa kematian adalah satu-satunya cara untuk melarikan diri dari misinya ke Niniwe. Tetapi ikan besar itu (tidak disebutkan paus dalam buku) adalah alat keselamatan untuk sang nabi. Tidak seperti Yunus, makhluk ini menanggapi dan menuruti perin­tah Allah (Yun. 1:17; 2:10),

Pemeliharaan Allah bekerja dengan cara yang ajaib di sini, dan bagaimana pun juga ada banyak orang yang mencemoohkan cerita ini, Yesus menyaksikan kebenarannya (Mat. 12:40) dan bahkan menggunakannya sebagai acuan dalam kematian dan kebangkitan-Nya.

Baca Yunus 2, sering disebut dengan Mazmur Yunus. Apa yang dia ka­takan di sana? Prinsip rohani apa yang bisa kita amhil dari pasal ini?

Yunus 2

2:1. Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu,

2:2 katanya: “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.

2:3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.

2:4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?

2:5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku

2:6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.

2:7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.

2:8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia.

2:9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!”

2:10. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

Mazmur Yunus merayakan kelepasan yang diberikan Allah dari laut dalam yang menakutkan. Ini merupakan satu-satunya bagian puisi dari buku ini. Di dalamnya Yunus mengingat kembali doa untuk minta bantuan sementara dia tenggelam ke kedalaman air dan menghadapi kematian pasti. Karena sangat peduli kepada keselamatannya, dia berterima kasih kepada Allah untuk hal itu. Lagu itu menandakan bahwa Yunus terbiasa dengan Mazmur pujian dan ucapan syukur di dalam Alkitab.

Sumpah Yunus sepertinya berisikan korban syukur. Dia berterima kasih bahwa, walaupun dia pantas untuk mati, Allah menunjukkan kepadanya ke­murahan yang luar biasa. Walaupun tidak menurut, Yunus masih menyadari bahwa dirinya setia kepada Allah karena dia tidak memiliki dewa yang mati untuk disembah. Walaupun dia memiliki banyak kekurangan, dia memutuskan untuk mencoba dan setia kepada panggilannya.

Kadang-kadang kita memerlukan pengalaman yang buruk untuk membuka hati kita kepada Tuhan, untuk menyadari bahwa hanya Dialah harapan, dan keselamatan. Pikirkan pengalamanmu di mana dengan je­las dapat dilihat bahwa tangan Tuhan bekerja dalam hidupmu. Mengapa­kah sangat sulit untuk melupakan cara Tuhan memimpin kita, walaupun dalam keajaiban, khususnya ketika muncul pencobaan yang baru?

Rabu

MISI YANG SUKSES

Setelah mengalami kelepasan yang demikian luar biasa, saat diperintah­kan oleh Allah untuk kedua kalinya berkhotbah ke Niniwe, Yunus segera me­nurutinya. Dalam pekabarannya, Yunus (3:1-4) menggunakan bahasa yang mengingatkan kehancuran Sodom dan Gomora (Kejadian 19). Tetapi dalam bahasa aslinya (Ibrani), kata “ditunggangbalikkan” (lihat Kej. 19:21, 29; Yun. 3:4) dari pekabaran Yunus dapat juga diartikan “berbalik” atau “berubah” (Kel. 17:17,20: 1 Sam. 10:6). Khotbah Yunus tidaklah sia-sia.

Pencapaian terbesar Yunus sebagai Nabi adalah pertobatan kota itu. Sete­lah para pelaut itu, penduduk Niniwe adalah kelompok non Ibrani yang kedua dalam buku itu berbalik kepada Allah, dan semuanya adalah oleh karena inter­aksi dengan juru kabar Allah yang cacat. Hasilnya menakjubkan. Untuk me­rendahkan diri mereka di hadapan Allah, penduduk Niniwe mengenakan kain karung, dan membuat debu di kepala mereka dan berpuasa. Semuanya ini ada­lah tanda penyesalan dan pertobatan.

Baca Matius 12:39-41 dan 2 Tawarikh 36:15-17. Apakah yang ayat ini ajarkan kepada kita tentang pentingnya pertobatan?

Matius 12:39-41

12:39 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.

12:40 Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.

12:41 Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!

2 Tawarikh 36:15-17

36:15 Namun TUHAN, Allah nenek moyang mereka, berulang-ulang mengirim pesan melalui utusan-utusan-Nya, karena Ia sayang kepada umat-Nya dan tempat kediaman-Nya.

36:16 Tetapi mereka mengolok-olok utusan-utusan Allah itu, menghina segala firman-Nya, dan mengejek nabi-nabi-Nya. Oleh sebab itu murka TUHAN bangkit terhadap umat-Nya, sehingga tidak mungkin lagi pemulihan.

36:17 TUHAN menggerakkan raja orang Kasdim melawan mereka. Raja itu membunuh teruna mereka dengan pedang dalam rumah kudus mereka, dan tidak menyayangkan teruna atau gadis, orang tua atau orang ubanan–semua diserahkan TUHAN ke dalam tangannya.

Gambaran yang luar biasa tentang raja Asyur yang kuat merendahkan diri­nya dalam debu di hadapan Allah adalah satu teguran yang tajam bagi pengu­asa dan bangsa Israel yang sombong, paling tidak mereka yang terus menerus menolak panggilan para nabi untuk bertobat. Karena buku Yunus menekankan rahmat dan pengampunan Allah, bangsa Israel membacanya setiap tahun pada puncak perayaan Hari Pendamaian yang memperingati pengampunan Allah atas dosa-dosa mereka.

” Allah kita adalah Allah yang berbelas kasihan. Dengan panjang sabar dan rahmat yang lemah lembut dia menghadapi pelanggar hukum-Nya. Namun, saat sekarang ini, saat laki-laki dan perempuan memiliki begitu banyak kesem­patan untuk menjadi mengenal hukum Allah yang dinyatakan dalam Perintah yang Kudus, Penguasa alam semesta yang agung ini tidak dapat melihat kepu­asan atas kota yang jahat, yang memerintah dengan kekejaman dan kejahatan. Jika penduduk kota itu bertobat, sebagaimana yang telah dilakukan penduduk Niniwe, akan banyak lagi pekabaran Yunus yang harus diberikan.” —Ellen G. White, TheAdvent and Review and Sabbath Herald, 18 Oktober 1906.

Baca Yunus 3:5-10. Apakah yang ayat ini nyatakan tentang sifat dari pertobatan yang benar? Bagaimanakah kita dapat menerapkan prinsip ini kepada diri kita?

Yunus 3:5-10

3:5. Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.

3:6 Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu.

3:7 Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.

3:8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.

3:9 Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.”

3:10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.

Kamis

DIAMPUNI, NAMUN TIDAK MENGAMPUNI

Baca Yunus 4. Pelajaran penting apakah yang perlu dipelajari Yunus? Ba­gaimanakah kemunafikannya ditunjukkan di sini?

Yunus 4

4:1. Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.

4:2 Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.

4:3 Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.”

4:4 Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?”

4:5. Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.

4:6 Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu.

4:7 Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu.

4:8 Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.”

4:9 Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.”

4:10 Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.

4:11 Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

Yunus 4 menunjukkan beberapa hal menakjubkan tentang nabi. Kelihat­annya dia lebih suka mati daripada bersaksi tentang rahmat dan pengampunan Allah. Sedangkan sebelumnya Yunus bersuka cita karena kelepasannya dari kematian (Yun. 2:7-9), sekarang karena Niniwe hidup, dia lebih suka mati (Yun. 4:2, 3).

Berbeda dengan Yunus, Allah digambarkan dalam Alkitab sebagai seseo­rang “yang tidak senang dengan kematian orang yang jahat” (Yeh. 33:11). Yu­nus dan banyak teman sebangsanya yang senang dengan kemurahan Allah ke­pada Israel tetapi hanya menginginkan murka Allah kepada musuh mereka. Buku ini dengan tegas menegur kekerasan hati yang seperti itu.

Pelajaran-pelajaran apakah yang dapat kita pelajari dari kesalahan-kesalahan Yunus? Bagaimanakah prasangka buruk menodai kesaksian Kekristenan kita?

Telah diteliti bahwa buku Yunus adalah buku pegangan tentang bagaimana supaya jangan menjadi nabi. Yunus adalah nabi yang memiliki roh pemberon­takan dan prioritas yang salah.

Dia tidak dapat mengendalikan keinginannya untuk balas dendam. Dia ber­pikiran sempit dan pemarah. Gantinya bergembira karena Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada Niniwe, Yunus membiarkan keegoisan dan kesombongan­nya sakit hati.

Kata-kata Yunus yang terakhir adalah keinginannya untuk mati (Yun. 4:8, 9), sementara kata-kata Allah yang terakhir adalah penegasan akan kasih-Nya yang tak terukur, penegasan untuk kehidupan.

Buku Yunus dibiarkan ditutup dengan terbuka. Ayat penutupnya membi­ngungkan pembaca dengan satu pertanyaan yang tidak dijawab oleh penulis: Apakah perubahan hati yang luar biasa dari orang Niniwe akhirnya mengaki­batkan perubahan hati Yunus yang radikal?

Ada banyak yang sudah dipahami dalam cerita Yunus, khususnya tentang diri Yunus. Mungkin, bagaimanapun juga, pelajaran yang paling jelas adalah bahwa rahmat dan pengampunan Allah jauh lebih luas dari pada kita. Bagaimanakah kita dapat belajar untuk lebih bermurah hati dan mengampuni terhadap mereka yang tidak pantas menerimanya, se­bagaimana yang kita lihat di sini, Allah buat kepada Yunus dan pendu­duk Niniwe?

Jumat

Pendalaman

Bacalah kutipan-kutipan berikut ini dan diskusikan bagai­manakah mereka dapat menolong kita memahami lebih jelas pekabaran dari buku Yunus.

“Kapan saja mereka membutuhkan bantuan Anak-anak Allah memiliki hak istimewa yang berharga untuk memohon bantuan dari Dia. Tidak masalah apa­kah tempatnya tidak tepat, telinga kemurahan Allah terbuka untuk tangisan mereka. Bagaimana terpencil dan gelap tempatnya, itu dapat diubah menjadi kaabah yang benar dengan doa anak-anak Allah.—Ellen G. White, The SDA Bible Commentary, jld. 4, hlm. 1.003.

“Menjadi bingung, merasa terhina dan tidak sanggup mengerti akan ren­cana Allah dengan menyelamatkan Niniwe, bagaimanapun Yunus telah meme­nuhi tugas yang diberikan kepadanya untuk memberi amaran pada kota yang besar itu; dan walaupun peristiwa yang diramalkan tidak terjadi, namun ba­gaimanapun pekabaran itu berasal dari Allah. Dan pekabaran itu menyelesai­kan rencana Allah yang dirancangkan-Nya harus demikian. Kemuliaan rahmat-Nya telah dinyatakan di antara orang kafir”. —Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 3, hlm. 224.

SEKOLAH “SATU” PEKAN MERUPAKAN SERI PELAJARAN ALKITAB SELAMA SATU PEKAN(MINGGU) YANG DISUSUN PERHARI DENGAN TUJUAN AGAR KITA DAPAT BELAJAR FIRMAN TUHAN SETIAP HARI.

Baca pelajaran yang lain dalam kategori Sekolah Alkitab “satu” Pekan atau kembali ke halaman depan Firman-Tuhan(.org).

TERPOPULER dan TERBARU:
INGIN SEKALI MENGAMPUNI (NABI YUNUS)
"INGIN SEKALI MENGAMPUNI (NABI YUNUS)" PRAWACANA: Sebagian orang menganggap bahwa kitab Yunus hanyalah sebuah cerita kiasan atau alegori (khususnya bagi...
Kasih dan Penghakiman (Hosea)
Kasih dan Penghakiman: Dilema Allah (Hosea) Sabat Petang Bacalah Untuk Pelajaran Pekan Ini: Hos. 7:11,12; 10:11-13; Mal. 11:28- 30; Rm. 5:8; 1 Ptr....
Umat Istimewa Allah
Umat Istimewa Allah (Mikha) Sabat Petang PENDAHULUAN Bacalah Untuk Pelajaran Pekan Ini: Mi. 1:1-9; 2 Kor. 11:23-27; Mi. 2:1- 11; 5:2; 6:1-8; 7:18-20. Ayat...
JANJI DOA
"JANJI DOA" Sabat Petang PENDAHULUAN Doa adalah salah satu karunia Allah bagi manusia yang sangat penting. Manusia selalu mempunyai rasa kebutuhan...
MEYAKINI KEBAIKAN ALLAH
"MEYAKINI KEBAIKAN ALLAH (HABAKUK)" Sabat Petang PENDAHULUAN Menunggu Tuhan bertindak. Apa yang anda rasakan ketika menonton siaran TV atau membaca...
ALLAH untuk SEMUA BANGSA (AMOS)
ALLAH untuk SEMUA BANGSA (AMOS) Sabat Petang Bacalah Untuk Pelajaran Pekan ini : Amos 1-2; Yes. 58; Luk. 12:47,48; I Raj. 8:37-40; Amos 4:12,13;...
PERNIKAHAN: KARUNIA DARI EDEN
PERNIKAHAN: KARUNIA DARI EDEN SABAT PETANG BACA UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: Kej. 2:18-25; Mrk. 10:7-9; Ef. 5:22-25; Mat. 5:27-30; 2 Kor. 3:18. AYAT...
PENCIPTAAN, SEBUAH TEMA ALKITABIAH
"PENCIPTAAN, SEBUAH TEMA ALKITABIAH" SABAT PETANG PENDAHULUAN Kalau bukan karena percaya bahwa Allah adalah Penciptalangit dan bumi beserta segala...
PENCIPTAAN dan INJIL
PENCIPTAAN dan INJIL  SABAT PETANG BACA UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: Kej. 3:21; Mzm. 104:29, 30; Yoh. 1:4; Rm. 5:6-11; Gal. 3:13; Mat. 27:46. AYAT...
UMAT ALLAH YANG ISTIMEWA
"UMAT ALLAH YANG ISTIMEWA (MIKHA)" Sabat Petang PENDAHULUAN Apa yang dituntut Allah. Mikha berasal dari Moresyet, sekitar 40 Km baratdaya Yerusalem,...
HAK ISTIMEWA UNTUK BERDOA
SUAMI ISTRI MAKNA SETIA