janji doa

doa

JANJI DOA

Berdoa

“JANJI DOA”

Sabat Petang

PENDAHULUAN

Doa adalah salah satu karunia Allah bagi manusia yang sangat penting. Manusia selalu mempunyai rasa kebutuhan untuk menyembah sesuatu kuasa yang melebihi manusia (supra alami) demi perasaan keamanan batin, dan dalam hal ini doa merupakan bagian yang penting dalam penyembahan. Tidak ada agama yang tidak menyertakan doa dalam penyembahan. Dan doa yang benar adalah yang memenuhi unsur-unsur yang diajarkan oleh Tuhan sendiri.

Makna berdoa. Pada hakikatnya, doa adalah modus (cara) yang memungkinkan manusia untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Tentu saja alasan utama kita berkomunikasi dengan Tuhan melalui doa ialah iman. Kita percaya bahwa Allah itu ada dan bahwa Dia akan mendengar serta mau menjawab doa-doa kita. Tanpa iman tidak akan ada doa.

Tujuan berdoa. Alkitab mencatat bahwa manusia berdoa kepada Tuhan untuk berbagai maksud tertentu. Abraham berdoa untuk Abimelekh, raja negeri Gerar di mana dia menumpang, supaya Abimelekh mempunyai anak (Kej. 20:17). Ishak juga mendoakan Ribkah, istrinya, memohon seorang anak (Kej. 25:21); demikian pula halnya dengan Hana, ibu Samuel (1Sam. 1:9-10, 27). Musa berdoa untuk menolak bala yang menimpa istana Firaun dan seluruh negeri Mesir (Kel. 8:9, 29; 9:29; 10:17-18), dan juga untuk menolak bala yang menimpa umat Israel sendiri (Bil. 11:2; 21:7; Ul. 9:20, 26). Nabi Elisa berdoa untuk membangkitkan anak seorang perempuan di kota Sunem (2Raj. 4:33), raja Hizkia berdoa meminta kesembuhan (2Raj. 32:24; Yes. 38:2), dan bersama nabi Yesaya dia juga berdoa meminta pertolongan Tuhan dalam peperangan melawan raja Asyur (2Taw. 32:20). Yunus berdoa dari dalam perut ikan memohon pengampunan dan kelepasan (Yun. 2:1-9), Petrus berdoa untuk membangkitkan kembali Tabita alias Dorkas (Kis. 9:40). Masih banyak lagi peristiwa yang tercatat dalam Alkitab tentang berbagai tujuan manusia dalam berdoa.

Postur tubuh saat berdoa. Dalam Alkitab disebutkan beberapa sikap badan ketika seseorang berdoa kepada Allah. Mereka yang berdoa sambil berlutut termasuk Salomo (1Raj. 8:54; 2Taw. 6:13), Daniel (Dan. 6:11), Petrus (Kis. 9:40), Paulus (Kis. 20:36), dan juga Yesus sendiri (Luk. 22:41). Salomo dan umat Israel juga berdoa sambil berdiri dan menadahkan tangan ke atas (1Raj. 8:22, 23, 38; Yes. 1:15), Ezra berlutut sambil menadahkan tangan (Ez. 9:5), seperti juga orang Kristen pada zaman rasul-rasul (1Tim. 2:8). Dalam Alkitab tidak ada suatu ketentuan yang baku perihal sikap badan saat berdoa.

Motivasi dalam berdoa. Sementara Yesus menyuruh untuk selalu berdoa tanpa jemu (Luk. 18:1), Dia juga menasihatkan tentang motivasi ketika berdoa. “Janganlah berdoa seperti orang munafik,” kata Yesus (Mat. 6:5) yang suka pamer dalam berdoa, dan mengelabui orang dengan doa yang panjang-panjang (Mrk. 12:40; Luk. 20:47). Penulis kitab Ibrani mengajak kita untuk berdoa dalam keyakinan dan ketulusan, “Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh” (Ibr. 10:22).

“Bapa kita yang di surga menunggu untuk mencurahkan kepada kita segala berkat-Nya. Hak kitalah mereguk sebanyak-banyaknya dari pancaran kasih yang tiada batasnya itu. Herannya ialah kita berdoa terlalu sedikit! Allah bersedia dan mau mendengar doa yang tulus dari anak-anak Allah yang rendah hati, namun masih banyak juga dari antara kita yang enggan untuk menyatakan keperluan kita kepada Allah” [alinea pertama, tiga kalimat pertama].

Minggu

BAGAIMANA DOA ITU BEKERJA (Masa Lalu dan Masa Depan–Kuasa Doa)

Kisah tentang seorang karyawan perusahaan yang selama bekerja telah bersikap culas kepada seorang rekan sekerjanya tapi kemudian setelah pensiun sadar dan menulis surat minta maaf, sebagaimana diutarakan dalam pelajaran hari ini, hanya mempertegas tentang kuasa doa yang bekerja secara diam-diam. “Dalam banyak hal cerita ini mencontohkan tentang kuasa doa. Itu belum seperti meminta Allah memindahkan gunung, meskipun itu bisa saja terjadi. Sebaliknya, hal itu dapat menyebabkan suatu hal yang lebih menakjubkan: dapat mengubah hati manusia” [alinea kedua].

Roh Nubuat menulis, “Allah ingin kita datang kepada-Nya dalam doa agar Ia dapat menerangi pikiran kita. Hanya Dia saja yang dapat memberikan arti kebenaran yang jelas. Dia saja yang dapat melunakkan dan menaklukkan hati” (In Heavenly Places, p. 75; huruf miring ditambahkan). Kalau doa kita dapat melunakkan hati orang lain, doa juga pasti dapat melunakkan hati kita yang keras. Dan sebagaimana rasul Yakobus katakan, “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yak. 5:16; huruf miring ditambahkan).

Alkitab mengajarkan kita untuk “tetap berdoa” (1Tes. 5:17). Dalam versi Terjemahan Lama (TL) ayat ini berbunyi, “berdoa dengan tiada berkeputusan,” sedangkan versi Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) mengatakan “berdoalah senantiasa.” Mengapa kita manusia harus berdoa terus-menerus, bukankah Allah juga tahu apa yang kita butuhkan sebelum kita memintanya (Mat. 6:8)?

Kita harus terus-menerus berdoa “supaya jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Mat. 26:41), dan “harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk. 18:1), karena dengan demikian pada akhirnya “Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang-malam berseru kepada-Nya” (ay. 7). Sebab pada zaman yang genting ini kita harus dapat “menguasai diri dan waspada” (1Ptr. 4:7; Kol. 4:2), supaya kita selalu “bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan” (Rm. 12:12).

Pena Roh Nubuat kembali menulis, “Doa adalah nafas jiwa. Itu adalah rahasia dari kuasa rohani. Tidak ada sarana kasih karunia lain yang dapat menggantikannya sehingga kesehatan jiwa terpelihara. Doa membawa hati ke dalam hubungan langsung dengan Mata Air kehidupan itu, dan menguatkan sendi-sendi pengalaman rohani” (Messages to Young People, p. 249).

Charles Spurgeon (1834-1892), seorang evangelis gereja Baptis yang khotbah-khotbahnya sangat berpengaruh tidak saja di Inggris tetapi juga di seluruh dunia pada zamannya, ketika berbicara tentang pentingnya doa mengatakan, “Saya lebih baik mendidik satu orang untuk berdoa daripada mendidik sepuluh orang untuk menginjil.” Sedangkan Charles L. Allen (1913-2005), seorang pendeta gereja Methodis terkenal di Amerika yang mendirikan dan memimpin sebuah jemaat gereja Methodis Pertama yang terbesar di dunia dengan 12.000 anggota di Georgia, AS dan juga seorang penulis, dalam bukunya bertajuk Prayer Changes Things (Doa Mengubah Berbagai Hal) menulis, “Doa bukanlah suatu cara dengan mana saya berusaha hendak mengatur Tuhan, melainkan itu adalah suatu cara untuk menempatkan diri saya dalam posisi di mana Allah dapat mengatur saya.”

Doa bukan saja satu sarana komunikasi tercepat oleh mana kita manusia di dunia ini dapat berhubungan dengan Tuhan di surga, tetapi doa adalah juga sarana oleh mana kita sebagai manusia yang berdosa dan hina dapat menjalin hubungan dengan Allah yang Maha Kudus dan Maha Mulia. Doa adalah sebuah komunikasi dua arah yang disediakan oleh Allah sendiri bagi setiap orang yang mau menjalin hubungan yang akrab dengan Dia. Seperti kata Rick Warren (lahir 1954), pendiri dan pemimpin Saddleback Church di Lake Forest, California dan terkenal dengan bukunya The Purpose Driven Life (terbit 2002) yang telah mempengaruhi kehidupan jutaan orang di seluruh dunia, menulis dalam buku tersebut, “Mengenal dan mengasihi Allah adalah kesempatan istimewa kita yang terbesar, dan dikenal serta dikasihi adalah kesenangan Allah yang terbesar” (hlm. 98).

“Tidak diragukan lagi bahwa sebagai orang-orang Kristen kita disuruh untuk berdoa dan sering berdoa. Selain itu, barangkali kita tidak sungguh-sungguh memahami bagaimana doa itu bekerja…Namun satu hal bahwa seseorang yang berdoa senantiasa dan dengan sungguh-sungguh–dan sesuai dengan kehendak Allah–dapat bersaksi bahwa doa bisa dan memang mengubah kehidupan kita” [alinea terakhir, dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Bagaimana kita dapat mengamalkan suatu kehidupan dalam suasana berdoa senantiasa sementara kita menjalani kehidupan yang sehari-harinya serba sibuk, dan tampaknya tidak ada kesempatan untuk menyendiri hendak berdoa? Melalui pena inspirasi Ellen G. White kita membaca, “Kita tidak selalu berada dalam situasi di mana kita bisa masuk ke dalam ruang tertutup untuk mencari Allah dalam doa, tetapi setiap saat dan di mana saja kita dapat melayangkan permohonan kepada Allah. Tidak ada yang dapat menghalangi kita mengangkat hati dalam semangat doa yang sungguh-sungguh. Di tengah keramaian jalan, dan di tengah kesibukan bisnis, kita dapat melayangkan permohonan kepada Allah dan meminta tuntunan Ilahi” (Suara Hati Nurani, hlm. 23; Renungan Pagi 2012 tanggal 15 Januari).

Apa yang kita pelajari tentang bagaimana kuasa doa itu bekerja?

1. Doa bekerja secara diam-diam dan tanpa henti. Sementara anda dan saya tertidur, kuasa doa itu terus bekerja untuk memenuhi keperluan kita yang sesuai dengan kehendak Allah.

2. Kuasa doa dapat mengubah segala sesuatu, termasuk mengubah hati manusia yang keras menjadi lunak. Doa adalah juga satu-satunya cara bagi manusia untuk “mengubah” hati Allah bilamana kita memohon dengan terus-menerus seperti perempuan janda dalam perumpamaan Yesus itu (Luk. 18:1-7).

3. Doa bukan saja sarana komunikasi dua arah yang selalu terbuka antara manusia dengan Tuhan, tetapi lebih dari itu doa adalah juga sumber oksigen bagi kehidupan kerohanian kita manusia. Dengan demikian, sebagaimana manusia tidak dapat hidup tanpa bernafas selama lebih dari 7-8 menit, kerohanian kita juga tidak dapat hidup tanpa berdoa.

Senin

DOA SANG JURUSELAMAT (Yesus, Mesias yang Berdoa)

Pada berbagai peristiwa tertentu dalam kehidupan-Nya, Yesus Kristus selalu melibatkan doa atau berada dalam suasana doa. Ketika Sang Mesias berada dalam situasi paling mencekam selama hidup-Nya di atas Bumi ini, yaitu saat paling menentukan dalam missi utama-Nya ke dunia ini dan juga yang menentukan nasib akhir dari seluruh umat manusia, Sang Juruselamat itu berdoa semalam-malaman. Doa Yesus di Taman Getsemani di kaki Bukit Zaitun ini tercatat sebagai doa yang terlama dan paling intens dalam kehidupan-Nya di dunia ini. Betapa tidak, saat itulah Yesus bergumul antara “meminum cawan” yang berisi murka Allah atas dosa manusia, atau tidak.

Yesus yang telah mengetahui bahwa saat yang menentukan itu sudah tiba mengajak tiga murid terdekat untuk menemani Dia berdoa menjelang tengah malam itu. Kepada Petrus, Yakobus dan Yohanes, Yesus tidak menyembunyikan perasaan-Nya. “Ia sangat takut dan gentar, lalu katanya kepada mereka: ‘Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya’” (Mrk. 14:33-34). Kata asli yang diterjemahkan dengan sangat sedih dalam ayat ini adalah περίλυπος, perilypos, sebuah kata-sifat yang berarti “kesedihan yang melampaui batas” atau “dikuasai oleh kesedihan sangat dahsyat sehingga dapat menyebabkan kematian.” Begitu beratnya tekanan batin yang dirasakan Yesus sehingga ketika berdoa Sang Juruselamat dunia itu “merebahkan diri ke tanah” (ay. 35).

Dokter Lukas mencatat, “Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: ‘Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.’ Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Luk. 22:41-44; huruf miring ditambahkan). Stres yang sangat dahsyat itu telah membuat pembuluh-pembuluh darah kapiler di bawah kulit yang dekat dengan kelenjar keringat itu pecah sehingga darah bercampur keringat keluar melalui pori-pori dan menetes ke tanah. Rasanya tidak ada seorang pun di antara kita yang pernah berdoa sedemikian sungguh-sungguh sampai berkeringat campur darah!

“Yesus, Anak Allah yang tak bernoda, Seorang yang tanpa dosa, tanpa kesalahan, Seorang yang hidup dalam keselarasan yang sempurna dengan kehendak Bapa, sangat nyata memiliki kehidupan yang penuh dengan kuasa doa…Kalau Yesus perlu berdoa agar dapat mengatasi hal-hal yang Ia hadapi, lebih-lebih lagi kita? Keteladanan Kristus dalam hal berdoa sangat jelas menyatakan betapa pentingnya doa dalam perjalanan kita bersama Tuhan” [alinea pertama, tiga kalimat pertama].

Beberapa contoh lain tentang bagaimana Yesus mengamalkan suatu kehidupan penuh doa selama berada di dunia ini antara lain dapat kita lihat dalam ayat-ayat berikut:

1. Yesus berdoa di tempat yang sepi. “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Mrk. 1:35). “Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa” (Luk. 5:16).

2. Yesus berdoa bagi murid-murid-Nya. “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita” (Yoh. 17:9-11)

3. Yesus berdoa juga untuk semua orang percaya. “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh. 17:20-21).

4. Yesus berdoa untuk memuji Allah Bapa. “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu” (Luk. 10:21).

5. Yesus mendoakan makanan. “Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak” (Mat. 14:19).

Tentu saja, Yesus juga mengajarkan doa yang kita kenal sebagai “Doa Tuhan Yesus” dan merupakan satu “model” doa paling populer sepanjang zaman, sebagaimana terdapat dalam Matius 6:9-13. Banyak orang Kristen yang sekalipun tidak membiasakan diri berdoa secara pribadi, sedikitnya dapat mengucapkan doa tradisional ini. Sebuah laporan menyebutkan bahwa doa yang juga dikenal dengan Doa Bapa Kami (Pater Noster) ini telah diucapkan oleh lebih dari 2 milyar orang pada satu hari Minggu Paskah tahun 2007 silam.

Intinya, selama kehidupan-Nya di atas bumi ini Yesus telah memberi teladan hidup dalam doa yang tidak berkeputusan, dalam berbagai keadaan dan untuk berbagai hal. Kehidupan yang penuh doa ini menunjukkan bahwa Yesus terus memelihara komunikasi dengan Bapa-Nya. “Jika komunikasi itu penting untuk memelihara suatu hubungan dengan orang lain, betapa lebih penting lagi itu dalam hubungan dengan Allah? Yesus telah memberi kita sebuah teladan. Terserah kepada kita apakah mau memilih untuk mengikutinya” [alinea pertama, tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Yesus yang selalu berdoa?

1. Yesus sangat menghargai hubungan dengan Bapa-Nya, dan hubungan itu terpelihara melalui doa yang tiada berkeputusan.

2. Doa-doa Yesus mencakup berbagai kepentingan, tidak hanya untuk diri-Nya sendiri. Bahkan, dari begitu banyak doa yang Yesus layangkan sebagian besar adalah untuk kepentingan orang lain kecuali saat bersyukur dan memuja Allah.

3. Sebagaimana kita bisa bertahan hidup dengan bernafas tanpa henti, demikianlah kita memelihara kehidupan rohani kita dengan berdoa terus-menerus. Doa harus menjadi pola hidup setiap orang percaya.

Selasa

ESENSI DOA KITA (Doa Iman)

Kita terdorong untuk berdoa kepada Tuhan karena merasakan kekurangan-kekurangan kita, baik itu untuk keperluan jasmani terlebih lagi kebutuhan rohani. Namun alasan kita untuk berdoa ialah karena kita percaya bahwa Allah pasti menjawab doa-doa yang kita layangkan kepada-Nya.

Jadi, iman adalah hal yang mutlak dalam berdoa. Iman memungkinkan doa kita efektif, dengan demikian iman merupakan prasyarat untuk berdoa. Sebab, bagaimana kita hendak berbicara kepada Tuhan kalau kita tidak percaya bahwa Dia ada, dan bahwa Ia berkenan mendengar doa kita? Seperti kata penulis kitab Ibrani, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibr. 11:6). Jadi, sekali lagi, tanpa iman tidak ada yang namanya doa!

Yesus menasihati, “Sebab itu ingatlah ini: Apabila kalian berdoa dan minta sesuatu, percayalah bahwa Allah sudah memberikan kepadamu apa yang kalian minta, maka kalian akan menerimanya” (Mrk. 11:24, BIMK; huruf miring ditambahkan). “Dalam satu pengertian, doa adalah satu cara untuk datang kepada Allah, membuka diri kepada-Nya. Kita tidak berdoa supaya Allah mengetahui hal-hal yang kita perlukan. Lagi pula, dalam hal yang berkaitan dengan doa, Yesus sendiri berkata bahwa ‘Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya’ (Mat. 6:8)” [alinea pertama, tiga kalimat pertama].

Iman adalah faktor yang sangat menentukan dan tidak bisa tidak harus selalu hadir dalam proses kita berdoa. Iman yang memicu kita untuk berdoa, iman mendorong kita untuk menyampaikan sesuatu permohonan kepada Allah dalam doa, iman memastikan kita bahwa apa yang kita layangkan dalam doa akan didengar oleh Tuhan, bahkan iman kita itu juga yang membuat Allah menjawab doa kita. Kekuatan dari doa kita bukan ditentukan oleh kata-kata yang dengan lancar dan mantap kita ucapkan saat berdoa, melainkan kuasa doa kita terletak pada besarnya iman yang menyertai doa kita itu. Bukankah dengan iman yang sebesar “biji sesawi” saja kita dapat memindahkan sebuah gunung (Mat. 17:20)?

Namun banyak orang yang menjadikan doa seakan-akan “ban cadangan” yang diperlukan hanya bilamana perlu. Atau, doa sebagai “jalan terakhir” apabila segala usaha yang lain tidak membuahkan hasil. Setelah mengerahkan segala sumberdaya dan mencoba segala cara namun tidak juga berhasil, barulah kita memanfaatkan doa sebagai “senjata rahasia” dengan harapan dapat menyelesaikan persoalan, ibarat “tongkat Musa” yang penuh azimat itu. Memang, doa dapat bekerja secara ajaib. Itu pasti. Tetapi menggunakan doa dengan cara berpikir seperti itu adalah penyalahgunaan doa.

“Untuk pengertian yang luas, setiap doa adalah tindakan iman. Siapakah yang dapat melihat doa-doa mereka naik ke surga? Siapakah yang dapat melihat Allah menerima doa-doa itu? Sering kita berdoa tanpa melihat hasil-hasilnya dengan segera, namun kita tetap percaya bahwa Allah mendengar dan akan menjawab dengan sebaik mungkin. Doa adalah tindakan iman oleh mana kita menjangkau melampaui apa yang kita lihat atau rasakan atau bahkan memahaminya dengan sepenuhnya” [alinea terakhir].

Lirik sebuah lagu rohani mengatakan, “Doa adalah kunci ke surga, tetapi iman yang membuka pintunya.” Dengan kata lain, doa adalah serangkaian kata yang bisa saja sampai ke pintu surga, tetapi tanpa iman perkataan dalam doa itu tidak dapat membuat pintu surga terbuka bagi permohonan kita.

Apa yang kita pelajari tentang iman dalam doa?

1. Doa tak mungkin terlepas dari iman. Tanpa iman, tidak ada doa. Sulit membayangkan seseorang berdoa kepada Tuhan tetapi tidak percaya bahwa doanya akan dijawab. Jadi, sebelum kita berdoa, pastikan lebih dulu bahwa kita percaya bahwa Tuhan menjawab doa kita.

2. Iman adalah “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr. 11:1). Berdoa dalam iman berarti berdoa dengan keyakinan bahwa apa yang kita harapkan itu pasti diberikan, bukan harus sesuai dengan keinginan kita melainkan selaras dengan kehendak Tuhan.

3. Kalau “doa adalah tindakan iman” maka orang yang rajin berdoa menandakan dia seorang yang imannya teguh, sedangkan orang yang jarang berdoa berarti imannya lemah, dan orang yang tidak berdoa adalah orang yang tidak beriman.

Rabu

MEMBUAT HATI TUHAN TERGERAK (Karena Kamu Tidak Meminta)

Pada sekitar awal tahun 1970-an seorang evangelis bernama Glenn A. Coon datang ke Jakarta dan memaparkan tentang sebuah konsep berdoa yang disebutnya “Doa ABC.” Alumnus Andrews University itu menuangkan ide tersebut dalam bukunya berjudul The ABC’s of Bible Prayer (Review and Herald Pub. Assoc., 1972, 208 hlm.) yang dibagi-bagikan kepada hadirin waktu itu. ABC adalah singkatan dari Ask (Minta), Believe (Percaya), dan Claim (Tuntut), yang didasarkan pada ayat-ayat Matius 7:7, Markus 11:22-24, dan Yohanes 11:40-42 (?). Menurutnya, supaya doa-doa kita dijawab oleh Tuhan maka kita harus meminta, percaya, dan menuntut janji Tuhan bahwa Ia akan menjawab doa kita.

Namun dalam pengalaman nyata seringkali kita “merasa” doa kita tidak dijawab sekalipun kita sudah meminta dan percaya serta menuntut kepada Tuhan sesuai dengan janji-Nya. Tampaknya ada satu faktor yang menentukan dijawab-tidaknya doa kita oleh Tuhan, sebagaimana yang rasul Yakobus katakan: “Kalian tidak mendapat apa-apa, sebab kalian tidak minta kepada Allah. Dan kalaupun kalian sudah memintanya, kalian toh tidak mendapatnya, sebab tujuan permintaanmu salah; apa yang kalian minta adalah untuk kesenangan diri sendiri” (Yak. 4:2-3, BIMK; huruf miring ditambahkan). Kata asli yang diterjemahkan dengan “salah” di sini adalah κακῶς, kakōs, sebuah kata-keterangan yang berarti “menyedihkan” atau “tidak pantas.” Jadi, motivasi dalam kita berdoa jelas merupakan faktor yang menentukan apakah doa kita dijawab sesuai permintaan kita atau tidak.

Tuhan tidak berkepentingan untuk menjawab semua doa kita demi menjaga reputasi-Nya, atau sebagai demonstrasi akan kekuasan-Nya; tapi Allah berkepentingan untuk menjawab doa kita semata-mata karena Dia mengasihi anda dan saya. Jawaban atas setiap doa kita selalu dipicu oleh kasih Allah kepada umat-Nya–dari dulu sudah begitu dan akan selalu begitu. Kasih itu pula yang mencegah Dia agar tidak menjawab doa yang jika diluluskan hanya akan menjerumuskan kita. Anda dan saya tidak mempunyai kompetensi apapun untuk bisa mengatakan kepada Tuhan mana jawaban atas doa kita yang dampaknya baik bagi kita dan mana yang tidak.

“Betapapun doa itu banyak mengubah kita serta berdampak kepada hubungan kita dengan Allah dan orang lain, Alkitab sangat jelas bahwa doa-doa kita mempengaruhi apa yang Allah lakukan. Kita meminta dan Dia menjawab dengan cara apapun” [alinea kedua]. Jadi, dalam hal jawaban terhadap doa kita, masalahnya bukan apakah Tuhan mampu memenuhi permohonan kita melainkan apakah Ia mau menjawabnya atau tidak. Dan kemauan Allah untuk menjawab doa kita juga dipengaruhi oleh dampak dari jawaban doa tersebut terhadap hidup kita, apakah hal itu baik atau tidak baik.

Kita sering mendengar orang mengkhotbahkan bahwa Tuhan menjawab doa permohonan kita dengan tiga jawaban: ya, tidak, dan tunggu. Dalam pengertian tertentu teologi ini mengandung kebenaran, sebab “tidak” juga termasuk jawaban Tuhan atas sesuatu permohonan. Persoalannya adalah bagaimana kita menilai–dan kemudian bersikap–terhadap apapun jawaban Tuhan kepada doa kita. Terkadang, apa yang kita minta dari Tuhan untuk kepentingan orang lain (doa pengantaraan) meskipun itu adalah sesuatu yang baik tetapi hasil akhirnya ditentukan oleh keadaan orang lain itu, bukan semata-mata bergantung pada baik-tidaknya permohonan itu dan apakah kita sebagai pemohon dianggap benar di hadapan Tuhan atau tidak. Seperti permohonan Abraham tentang Sodom dan Gomora, permintaan itu baik dan motivasinya juga baik, dimohon oleh seorang benar seperti Abraham, bahkan jawaban Tuhan terhadap permohonan itu adalah positif atau “ya” (Kej. 18:22-33). Tampaknya ada faktor lain yang menentukan di sini: apakah pihak yang akan menerima jawaban Tuhan itu layak untuk sebuah jawaban “ya” atau tidak.

Doa yang pasti mendapat jawaban “ya” dari Tuhan, bahkan dengan segera, ialah bilamana orang berdosa mengakui dosa-dosanya dalam kerendahan hati lalu bertobat seraya memohon pengampunan. “Aku akan mendengar dari surga dan mengampuni dosa mereka,” Tuhan berjanji (2Taw. 7:14). Hal ini dikuatkan oleh rasul Yahones yang mengatakan, “Jika kita mengaku dosa kita maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh. 1:9). Allah sangat berminat untuk menjawab permohonan untuk pengampunan dosa dan doa-doa yang berkaitan dengan keperluan kerohanian manusia, meskipun Ia juga memperhatikan kebutuhan-kebutuhan jasmani kita. Seperti kata Yesus, “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?…Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:31-33).

“Kita mengakui dosa-dosa kita, dan Dia mengampuninya, sebuah proses yang juga menghasilkan penyucian-Nya atas kita dari segala kejahatan kita. Ide yang jelas berlaku di sini ialah bahwa jika kita tidak berdoa, tidak mengaku, maka kita tidak akan diampuni. Dalam hal ini tidak diragukan lagi bahwa Allah bertindak dalam menjawab doa-doa kita” [alinea terakhir, tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang doa yang menggerakkan hati Tuhan untuk menjawabnya?

1. Doa adalah sarana yang Tuhan sediakan bagi manusia untuk memohon sesuatu kepada-Nya. Dan Ia berjanji akan menjawab doa kita, bukan sesuai dengan keinginan kita tetapi menurut kehendak-Nya.

2. Dalam berdoa kita harus mengucapkan dengan jelas permohonan kita, percaya bahwa permohonan kita akan dijawab-Nya, mengajukan permintaan-permintaan yang pantas dan dengan motivasi yang benar, serta membuat diri kita berkenan kepada-Nya.

3. Dalam menjawab doa kita Tuhan mempertimbangkan dampak dari jawaban doa itu atas diri kita, apakah akan berpengaruh baik pada kita atau tidak. Doa yang sudah pasti baik dampaknya bagi manusia, dengan demikian pasti dijawab-Nya dengan segera, adalah doa pengakuan dosa dan permohonan pengampunan dosa.

Kamis

DOA YANG PATUT (Memenuhi Syarat-syarat)

Setidaknya ada lima atau enam jenis doa yang kita kenal: 1. Doa pemujaan (praise and adoration), 2. Doa pengakuan dan pengampunan dosa (penitence and expiation), 3. Doa permohonan dan petisi (supplication and petition), 4. Doa pengucapan syukur (thanksgiving), dan 5. Doa pengantaraan (intercession). Jenis doa ke-6, yakni doa penahbisan (consecration and dedication), adalah sebuah jenis doa yang khas dan biasanya dilayangkan dalam sebuah upacara khusus yang melibatkan banyak orang. Sebagaimana dapat kita lihat, dalam berbagai jenis doa ini ada yang untuk kepentingan diri kita sendiri, ada yang untuk kepentingan orang lain, dan ada yang untuk kepentingan pekerjaan Tuhan serta untuk Tuhan sendiri.

Salah satu parameter dari seorang yang sudah dewasa kerohaniannya adalah seberapa intensif (sering) dia berdoa, dan seberapa ekstensif (luas) dia dalam doa-doanya. Berdasarkan pencermatan saya atas perilaku berdoa dari kebanyakan kita ialah bahwa kita sangat intensif dalam doa-doa yang bersifat pengampunan dosa dan permohonan, tetapi tidak terlalu sering dalam doa yang bersifat pengucapan syukur, agak kurang dalam jenis doa pengantaraan, dan nyaris tidak pernah dalam doa pemujaan. Saya sedang berbicara tentang perilaku berdoa kita yang bersifat khusus atau terfokus, pada waktu dan suasana tempat yang terpilih, bukan doa “gado-gado” yang setiap waktu dilayangkan di mana segala jenis doa di atas itu dicampur menjadi satu. Memang hampir setiap kali kita berdoa–termasuk doa waktu makan–semua jenis doa itu ada di dalamnya. Kita memuji Tuhan, bersyukur, mendoakan orang lain, dan biasanya kita tidak lupa minta pengampunan dosa di penghujung doa. Tetapi karena itu dilakukan dalam kelaziman atau sebagai kebiasaan maka meskipun doa kita mencakup semuanya rasanya itu seperti basa-basi.

Doa yang bersifat khusus adalah sebuah doa yang didedikasikan untuk suatu maksud tertentu yang kita ucapkan secara intens dan sungguh-sungguh saat mendoakannya. Biasanya untuk ini kita akan mencari waktu dan tempat yang khusus serta menyiapkan diri dan hati kita sebelum berdoa, bahkan kita akan menggunakan kata-kata yang terpilih dan teratur saat melayangkan doa khusus seperti ini, baik kita mendoakannya secara pribadi maupun berkelompok. Kita tentu sudah sering menyampaikan doa khusus seperti ini untuk hal-hal yang menyangkut kebutuhan kita secara pribadi, keluarga, atau kelompok tertentu. Bahkan kita terlalu menghabiskan banyak waktu berdoa untuk kepentingan-kepentingan diri sendiri. Namun kita sangat jarang mengadakan doa khusus dengan persiapan serupa untuk sengaja berdoa memuja Allah atau khusus mengucap syukur kepada-Nya, tanpa permohonan yang bersifat kepentingan diri.

Tetapi bukan hanya dalam doa khusus saja perlu menyiapkan diri dan berdoa dengan sungguh-sungguh seperti itu, kalau kita berharap doa kita dijawab. Tuhan mendengar dan menjawab setiap doa, oleh sebab itu setiap doa kita harus dilayangkan dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan dalam kita berdoa ditunjukkan dengan kesiapan hati serta ketulusan saat mengucapkan doa itu. Dengan demikian maka kita tentu tidak akan, misalnya, berdoa untuk menguruskan badan sambil melahap makanan lezat sekenyang-kenyangnya. Keselarasan antara permintaan doa kita dengan perilaku yang kita praktikkan merupakan prasyarat yang harus dipenuhi agar suatu doa permohonan dijawab oleh Tuhan. Harus ada sikap yang kooperatif dan partisipatif dari pihak diri kita jika ingin doa kita dijawab. Manusia tidak dapat menggunakan janji bahwa Tuhan akan menjawab setiap doa sebagai alat untuk fait accompli agar Ia menjawab doa kita sesuai keinginan kita, sementara kita tidak patut untuk menerimanya.

“Jika kita memuja kejahatan di dalam hati kita, kalau kita mempertahankan sesuatu dosa yang kita sadari, Tuhan tidak akan mendengarkan kita; tetapi doa dari jiwa yang menyesal dan hancur hatinya selalu diterima. Apabila semua kesalahan yang diakui itu sudah diluruskan, kita bisa percaya bahwa Allah akan menjawab permohonan-permohonan kita” [alinea keempat, dua kalimat pertama].

Faktor penting yang menentukan dijawabnya doa kita adalah bagaimana “sikap” orang yang berdoa itu dalam pemandangan Tuhan. Rasul Yakobus mengatakan, “Doa orang yang menuruti kemauan Allah, mempunyai kuasa yang besar” (5:16, BIMK; huruf miring ditambahkan). Versi TB menerjemahkan kalimat kedua dalam ayat ini: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (huruf miring ditambahkan). Jadi, orang yang dianggap “benar” dalam pemandangan Tuhan adalah orang yang “menuruti” kehendak-Nya, dan seorang yang benar di hadapan Tuhan pasti akan memohon hal-hal yang sesuai dengan kemauan Allah, bukan kemauannya sendiri.

Kalau ada satu kata kunci untuk memastikan bahwa setiap doa kita dijawab, menurut hemat saya kata itu adalah “kesesuaian.” Pertama, harus ada kesesuaian antara permohonan dalam doa kita dengan kerinduan kita yang diperlihatkan melalui sikap dan perilaku kita. Kedua, harus ada kesesuaian antara permohonan kita dengan keperluan kita. (Dan ingat, keperluan dan keinginan adalah dua hal yang berbeda!) Ketiga, harus ada kesesuaian antara permohonan kita dengan kehendak dan rencana Allah bagi kita.

“Barangkali, dari semua persyaratan yang perlu bagi kita untuk memiliki suatu kehidupan berdoa yang efektif, hal yang terutama adalah kesadaran kita akan kebutuhan kita, kesadaran kita akan ketidakberdayaan kita, kesadaran kita bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang memerlukan kasih karunia, dan bahwa satu-satunya pengharapan kita hanya ada di dalam Tuhan yang telah melakukan begitu banyak untuk kita. Menjadi sombong, percaya diri, dan berpuas diri adalah resep bagi malapetaka rohani” [alinea terakhir].

Pemazmur menasihati, “Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mzm. 37:3-4; huruf miring ditambahkan). Saya sengaja menggaris-bawahi frase “diamlah di negeri” yang dalam bahasa aslinya adalah שָׁכַן, shäkan’, sebuah kata-kerja yang berarti “bermukim” atau “tinggal” yang dalam hal ini adalah di negeri yang Tuhan berikan. Dengan kata lain, anda tidak perlu merantau jauh-jauh untuk mendapatkan apa yang diidam-idamkan. Asalkan kita percaya, setia, dan senantiasa bersukacita di dalam Tuhan, sekalipun hidup di negeri sendiri yang sarana dan prasarananya mungkin tidak senyaman di negeri orang, namun semua keinginan hati kita niscaya akan dipenuhi oleh Tuhan sejauh itu sesuai dengan kehendak dan rencana Allah bagi kita.

Apa yang kita pelajari tentang persyaratan agar doa kita dijawab?

1. Tuhan memang sudah berjanji akan menjawab doa kita bila kita meminta kepada-Nya. Tetapi janji itu bukan tanpa syarat. Ada hal-hal yang harus kita penuhi supaya doa kita dijawab, terutama adalah kesungguh-sungguhan kita yang ditunjukkan melalui sikap dan perilaku kita.

2. Doa permohonan yang khusus harus disampaikan secara khusus pula, bahkan dengan persiapan diri dan hati yang serius. Ingat, dalam menjawab doa kita Tuhan melandaskannya atas kasih terhadap diri kita, maka setiap permohonan yang jika dijawab akan membahayakan keselamatan jiwa kita tentu itu tidak akan dipenuhi-Nya.

3. Dalam melayangkan doa permohonan kita haruslah dipikirkan kesesuaian permohonan itu dengan kebutuhan kita serta kesesuaian dengan kehendak dan rencana Tuhan bagi kita. Allah tahu segala keperluan kita, rohani maupun jasmani, dan Ia mengerti apa yang terbaik bagi kita masing-masing.

Jumat

PENUTUP

Mudah sekali untuk berkata “Puji Tuhan, Tuhan itu baik” manakala kita merasa doa-doa kita dijawab oleh Tuhan sesuai dengan keinginan hati. Kita sering melihat kata-kata itu terpampang pada status banyak orang di Facebook, hampir setiap hari. Sebagian ditulis secara tulus berdasarkan pengalaman nyata, ada pula yang terkesan di-posting hanya untuk “meramaikan” statusnya dan sekadar memancing acungan jempol serta komentar-komentar orang. Namun setiap pujian kepada Tuhan pada dasarnya itu baik. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah: Akankah kita tetap memuji Dia dengan mengatakan “Tuhan itu baik” meskipun doa kita tidak dijawab-Nya, atau dijawab tetapi tidak seperti yang kita inginkan?

Acapkali kita menjadi kecewa dan putus asa bila doa permohonan kita sepertinya tidak dijawab. Anda tidak sendirian, banyak orang yang pernah merasakan itu. Abraham, Elia, dan Daud–sekadar menyebutkan beberapa nama dalam Alkitab–pernah merasa demikian. Tetapi kita tahu bahwa Allah bekerja dengan cara yang tidak bisa dipahami oleh pikiran manusia, dan dalam keadaan seperti itu apa yang dapat kita lakukan adalah bersabar dan tetap percaya. “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” tulis pemazmur (Mzm. 46:11).

“Apabila doa-doa kita nampaknya tidak dijawab, kita harus berpaut pada janji itu; karena waktu untuk menjawabnya pasti akan tiba, dan kita akan menerima berkat yang paling kita butuhkan. Tetapi menuntut agar doa akan selalu dijawab dalam cara dan untuk hal tertentu yang kita inginkan adalah kelancangan. Allah itu terlalu bijaksana untuk bisa salah, dan terlalu baik untuk mau menahan sesuatu hal yang baik bagi mereka yang jalannya benar. Sebab itu jangan takut untuk percaya kepada-Nya, walaupun engkau tidak melihat jawaban yang langsung terhadap doa-doamu” [alinea kedua, empat kalimat terakhir].

Apakah saat ini anda sedang menunggu jawaban dari doa anda, suatu permohonan khusus yang anda yakin itu baik bagi anda dan keluarga anda? Apakah permohonan itu sudah diserahkan kepada Tuhan agar diselaraskan dengan kehendak dan rencana-Nya bagi anda? Kalau begitu, marilah bersama saya untuk terus memohon dengan percaya dan menantikan dengan sabar. “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian…” (2Ptr. 3:9).

-Oleh Loddy Lintong-

Baca pelajaran yang lain dalam kategori Sekolah Alkitab “satu” Pekan atau kembali ke halaman depan Firman-Tuhan(.org).

TERPOPULER dan TERBARU:
HAK ISTIMEWA UNTUK BERDOA
Hak Istimewa Untuk Berdoa Yohanes 16:24 "Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah...
BERDOA DENGAN CARA ALLAH
Berdoa Dengan Cara Allah   Ajari aku, TUHAN... Aku ingin tahu, cara yang benar untuk berdoa. Bila aku perlu menggunakan kata-kata, Kata apa yang harus...
SUAMI ISTRI MAKNA SETIA
SUAMI ISTRI ”MAKNA SETIA” Didalam Pernikahan kristen,  Pernikahan dibangun di atas janji/sumpah setia  yakni untuk menjadi seperti yang diharapkan...
BUTUH TEMAN HIDUP
Butuh Teman Hidup   Neil Anderson & Charles Mylander dalam bukunya   The Christ-Centered Marriage, mengatakan seperti ini “Laki-laki...
MEYAKINI KEBAIKAN ALLAH
"MEYAKINI KEBAIKAN ALLAH (HABAKUK)" Sabat Petang PENDAHULUAN Menunggu Tuhan bertindak. Apa yang anda rasakan ketika menonton siaran TV atau membaca...
PENCIPTAAN dan INJIL
PENCIPTAAN dan INJIL  SABAT PETANG BACA UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: Kej. 3:21; Mzm. 104:29, 30; Yoh. 1:4; Rm. 5:6-11; Gal. 3:13; Mat. 27:46. AYAT...
“KASIH DAN PENGHAKIMAN: DILEMA ALLAH (HOSEA)”
"KASIH DAN PENGHAKIMAN: DILEMA ALLAH (HOSEA)" Sabat Petang PENDAHULUAN Metafora. Kita sudah pernah pelajari dalam pelajaran beberapa pekan lalu...
PENCIPTAAN, SEBUAH TEMA ALKITABIAH
"PENCIPTAAN, SEBUAH TEMA ALKITABIAH" SABAT PETANG PENDAHULUAN Kalau bukan karena percaya bahwa Allah adalah Penciptalangit dan bumi beserta segala...
PERGAULAN MUDA-MUDI KRISTEN
PergauLan Muda-mudi Kristen   PerGauLan Pada Umumnya.......... Manusia diciptakan bukan saja sebagai makhluk individu, tetapi juga sebagai...
PENGLIHATAN PENGHARAPAN
"PENGLIHATAN PENGHARAPAN (ZAKHARIA)" SABAT PETANG: PENDAHULUAN Rencana Tuhan bagi umat-Nya. Tuhan selalu punya rencana untuk umat-Nya dari zaman ke...
Tekanan Darah Tinggi
HAL YANG HARUS ANDA TAHU TENTANG TEKANAN DARAH TINGGI (HIPERTENSI)
Anak Cerdas
13 NUTRISI PENTING UNTUK CERDASKAN ANAK