hari sabat

konsili trent

Bagian 9. Konsili Trent

Sebelumnya: Bagian 8. Perubahan Besar (10 Hukum Tuhan Dirubah)

Bagian 9

KONSILI TRENT

Baca halaman disclaimer kami klik disini.

Konsili Trent (Council Trent)

Konsili Trent (Council Trent)

Pada dewan inilah Gereja Katolik menyusun dasar-dasar permanen dari Kepercayaan Katolik — serangkaian persidangan ini diadakan guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dan memaksakan  perhatian di Eropa oleh para reformator protestan: para reformis menuduh gereja Katolik telah ingkar dari kebenaran “sebagaimana terdapat pada firman yang tersurat.” Itulah pokok yang dikumandangkan oleh reformasi dan protestanisme: firman yang tersurat,”Alkita dan hanya Alkitab saja,” inilah patokan mereka…

…Namun Katolik bersikukuh pada “Kitab Suci dan tradisi” Alkitab berdasarkan penafsiran gereja dan alasan untuk hal tersebut adalah “bapa-bapa suci” yakni Paus dan para Bishop dan sebagainya dari gernerasi-generasi sebelumnya…

Ada suatu kelompok di tengah dewan gereja Katolik ini yang mendukung untuk meninggalkan “tradisi” serta mengikuti hanya Alkitab saja sebagai standar kewenangan! Pandangan ini diperdebatkan dengan seru sehingga para pembantu Paus melaporkan kepaanya bahwa ada “suatu kecenderungan yang kuat untuk menyingkirkan segala tradisi dan menjadikan Kitab Suci sebagai satu-satunya standar pertimbangan.” Tetapi melakukan hal ini berarti menyebabkan suatu langkah yang membenarkan tuntutan kaum protestan.

Akibat dari krisis ini berkembanglah di kalangan penganut Katolik-ultra dalam dewan tersebut upaya untuk meyakinkan kelompok lain bahwa “Kitab Sudi dan tradisi” adalah satu-satunya pijakan pasti — jika ini dicapai maka dewan dapat dibujuk untuk mengluarkan suatu dekrit mempersalahkan reformasi. Lain dari itu tidak…

Masalah ini diperdebatkan hari demi hari sampai dewan tiba pada suatu jalan buntu. Akhirnya, setelah perdebatan yang panjang dan terus-menerus, uskup agung dari Reggio mengajukan kepada dewan argumentasi yang intinya sebagai berikut:

Kaum protestan mengakui berdiri pada “Firman yang tersurat saja” — mereka mengaku berpegang hanya pada Kitab Suci saja sebagai standar iman. Mereka membenarkan pemberontakan mereka dengan dalih bahwa gereja telah mengingkari Firman yang tersurat dan mengikuti tradisi sekarang pengakuan kaum protestan bahwa mereka hanya berdiri pada Firman yang tersurat saja  adalah tidak benar. Pengakuan mereka memegang “hanya pada Kitab Suci saja sebagai standar iman” adalah tidak benar!

TERSURAT (FIRMAN YANG TERSURAT)

Firman yang tersurat secara tegas memerintahkan pemeliharaan hari ketujuh sebagai hari Sabat! Mereka TIDAK memelihara hari yang ketujuh, melainkan menolaknya! Kalau benar mereka berpegang hanya kepada Alkitab sebagai standar, mestinya mereka memelihara hari ketujuh, seperti yang diperintahkan dalam seluruh Alkitab! Namun mereka bukan saja menolak pemeliharaan hari Sabat sebagaimana Firman yang tersurat, tetapi mereka juga telah mengikuti dan mempraktekan pemeliharaan hari Minggu, yang berarti mereka hanya mengikuti tradisi gereja… dengan demikian maka pengakuan bahwa “Alkitab saja sebagai standar” menjadi tidak berlaku! Doktrin tentang “Alkitab dan tradisi” sebagai inti berlaku sepenuhnya, dan orang-orang protestan sendiri yang menjadi hakim!

Argumentasi ini disambut oleh dewan sebagai ILHAM SEJATI — kelompok penganut “hanya Alkitab saja (sola scriptura)” menyerah… lalu dengan suara bulat dewan:
MEMPERSALAHKAN PROTESTANISME DAN SELURUH GERAKAN REFORMASI SEBAGAI SUATU PEMBERONTAKAN YANG TIDAK DAPAT DIBENARKAN KARENA MEMISAHKAN DIRI DARI PERSEKUTUAN DAN KEKUASAAN GEREJA KATOLIK…

Informasi ini dikutip dari risalah “Rome’s Challence” halaman 25-27, 1893.

….dengan demikian KETIDAKTETAPAN Protestan dengan “pengakuan protestan” itulah yang memberi peluang kepada Gereja Katolik memperoleh alasan yang telah lama dicari guna menghukum protestantisme dan seluruh gerakan reformasi

Demikianlah kaum Katolik menang… dan kaum Protestan gagal meraih kemenangan penting bagi TUHAN… “TRADISI” harus berlanjut.

Bersambung ke pembahasan bagian berikut.

Selanjutnya: Bagian 10. Trasidi  (atau Alkitab)