hari sabat

Pengakuan Mengenai Hari Sabat

Bagian 7. Pengakuan Mengenai Hari Sabat

Sebelumnya: Bagian 6. Undang-undang Hari Minggu Kaisar Konstantin

Bagian 7

PENGAKUAN GEREJA KATOLIK MENGENAI HARI SABAT

Baca halaman disclaimer kami klik disini.

Gereja Katolik MENGAKUI sepenuhnya bahwa pengukuhan HARI MINGGU sebagai HARI KUDUS semata-mata perbuatan mereka.

Berikut kutipan-kutipan dari berbagai buku:

Gereja Katolik membenarkan dan menyatakan bahwa memang mereka mempunyai kuasa / wewenang untuk hal itu.

~ “Akhirnya, pada akhir pembukaan tanggal 18 Januari 1562, semua keragu-raguan telah dilenyapkan : Archbishop dari Regio mengadakan suatu pembicaraan di mana ia secara terang-terangan memaklumkan bahwa tradisi berada di atas Kitab Suci. Dengan demikian kekuasaan gereja tidak boleh dibatasi oleh kekuasaan Kitab Suci, sebab Gereja telah mengubah… hari Sabat menjadi hari Minggu, bukan oleh perintah Kristus, melainkan oleh kekuasaannya sendiri.” (Canon and Tradition, H.J. Holtzman, hal 263).

Gereja Roma Katolik memahami bahwa perubahan hari Sabat itu merupakan suatu tanda kekuasaan gereja. Di bawah ini terdapat pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh para penguasa gereja:

~  “Anda boleh membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu dan Anda tidak akan menemukan satu pernyataanpun yang mengizinkan penyucian hari Minggu. Firman Allah menekankan pemeliharaan hari Sabtu sebagai hari perbaktian agama, suatu hari yang kami (umat Katolik) tidak pernah kuduskan.” (The Faith of Our Father, James Cardinal Gibbons, hal 89, James Murphy Company, New York, 1917).

~ “Gereja Katolik untuk selama lebih dari seribu tahun sebelum Protestan lahir, dengan kekuatan tugas ilahinya, telah mengubah hari itu dari hari Sabtu menjadi hari Minggu. Dunia Protestan pada waktu itu baru lahir merasa bahwa hari Sabat Kristiani masih terlalu keras untuk diterobos, karena itu mereka terima saja dulu yang artinya menerima kuasa gereja itu (Katolik-red) untuk mengubah hari itu selama tiga ratus tahun lebih. Hari Sabat Kristiani pada dewasa ini adalah turunan gereja Katolik yang diakui sebagai pasangan Roh Kudus tanpa perlawanan dari pihak dunia Protestan.” (The Catholic Mirror, 23 September 1893, dikutip dari seri terakhir dari empat seri berjudul “Hari Sabat Kristiani”.  The Catholic Mirror adalah organ resmi dari Kardinal Gibbons, Baltimore, Maryland, USA).

~ “Adalah gereja Katolik, yang dengan kuasa Yesus Kristus, yang mengganti hari perhentian itu menjadi hari Minggu sebagai peringatan kebangkitan Tuhan kita. Jadi, pemeliharaan hari Minggu oleh gereja Protestan adalah sebagai penghormatan mereka pada kuasa gereja itu” (Plain Talk about the Protestanism of Today, Monsignor Segur, Thomas B. Noonan & Co., Boston, 1868).

~ Di bawah ini dikutip suatu tanya-jawab yang dikutip dari buku The Convet’s Cathechism of Catolic Doctrine:

Tanya   : “Apakah engkau mempunyai cara lain untuk membuktikan bahwa gereja mempunyai kuasa untuk menetapkan hari raya atau peraturan?”

Jawab  : “Sekiranya ia tidak mempunyai kuasa demikian, ia tidak dapat melakukan itu dimana semua pemimpin agama modern setuju kepadanya – ia tidak dapat menggantikan pemeliharaan hari Sabtu hari ketujuh, suatu perubahan yang tidak ada wewenang dari Alkitab”

(A Doctrinal Cathechism, Stephen Keenan, hal 174, Edward Dunigan & Brothers, New York, 1851)

Tanya   : ” Yang manakah hari Sabat?”

Jawab  : ” Hari Sabtu adalah hari Sabat.”

Tanya   : “Mengapa kita memelihara hari Minggu dan bukan hari Sabtu?”

Jawab  : “Kita memelihara hari Minggu gantinya hari Sabtu karena gereja Katolik  pada konsili Laodekia (336 M) telah memindahkan kekudusan hari Sabtu ke hari Minggu.”

(The Convet’s Cathechism of Catolic Doctrine, Peter Geiermann, hal 50, London, 1934. Disahkan oleh Vatikan tanggal 25 Januari 1910).

~ “Sekarang kita sudah mengetahui bahwa hukum hari Minggu dan pemeliharaannya itu bukanlah dekrit yang berasal dari Allah melainkan adalah hukum yang kita buat sendiri. Lalu faktor yang sama (hukum Kristen dan Tradisi), yang ditempa, digubah dan ditafsirkan supaya sesuai dengan kebutuhan pada abad keenam, bisa kalau perlu ditempa lagi atau ditafsirkan kembali untuk memelihara kebutuhan sekarang ini. (Artikel, “Hari Minggu bukanlah Hari Sabat”, karangan Lawrence L. McReavy, hal 58 dalam majalah The Australian Catholic Digest, September 1941. Diterbitkan oleh the Advocate Press, Melboune, Australia).

- “Karena hari Sabtu, bukan hari Minggu, ditetapkan dalam Alkitab, tidakkah aneh rasanya melihat bahwa non-Katolik yang mengaku mengambil agama mereka langsung dari Alkitab dan bukan dari gereja Katolik juga memelihara hari Minggu dan bukan hari Sabtu ?  Ya, tentu tidak konsisten; tetapi perubahan ini dibuat kira-kira lima belas abad sebelum aliran Protestan lahir. Pada waktu lahirnya Protestan kebiasaan itu sudah menyeluruh di bumi ini. Mereka melanjutkan kebiasaan itu sekalipun hanya didasarkan atas kekuasaan gereja Katolik dan bukan atas ayat Alkitab. Pemeliharaan hari Minggu itu menjadi suatu kenangan dari gereja induk dari mana berasal sekte-sekte non-Katolik ibarat seorang anak  lari meninggalkan rumah tetapi masih mengantongi potret ibunya atau jepitan rambut ibunya. (The Faith of Millions, hal 543, 544, John A. O’Brein, kata pengantar oleh Kardinal Griffing. W.H. Allen, London, thn 1958).

- “Tentu, Gereja Katolik mengaku bahwa perubahan itu adalah tindakannya sendiri. Tidak mungkin yang lain melakukan seperti itu, karena pada waktu itu tidka ada yang lain berambisi untuk melakukan hal yang sama dalam bidang spiritual atau masalah keagamaan tanpa persetujuan gereja itu. Dan perbuatan tersebut menjadi tanda kekuasaan kegerejaan dalam masalah-maslaah agama” H.F. Thomas – Perwakilan Kardinal, 11 November 1895.

- “Alkitab menyuruh kita untuk menguduskan hari Sabtu. Perubahan itu terjadi karena tradisi Kristiani sejak zaman rasul-rasul. Tetapi tidak ada seorang pun dari rasul-rasul itu yang berkata sepatah kata pun tentang perubahan itu pada waktu mereka menulis buku Perjanjian Baru itu.” (Commentary of the Cathechism, hal 88, W.Frean, “Majellan” office, Redemption Fathers, Ballarat, Vic, Dicetak di Australia, 1959. Kata Pengantar dari yang mulia, Kardinal Gilroy).

Sebagai tambahan berikut adalah kutipan dari beberapa buku sesuai dengan kepercayaan(golongan) sipencipta bukunya:

BAPTIS :
“Sudah ada suatu perintah memelihara hari sabat tetapi hari Sabat itu bukan hari Minggu…. Bagaimanapun juga sudah dikatakan bahwa hari Sabat… menurut pendapat beberapa orang sudah dipindahkan ke hari pertama dalam Minggu… Dimanakah kita jumpai uraian tersebut? Sesungguhnya kita tidak akan menjumpainya didalam Perjajian Baru. Tidak ada bukti Alkitab  tentang perubahan hari Sabat hari yang ke-7 ke hari yang Pertama dalam Minggu”. Dr. Edward T. Hiscox, Penulis Pedoman Gereja Babtist.

KATHOLIK :
“Saudara boleh baca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, maka engkau tidak akan menjumpai satu katapun yang menyuruh sucikan hari Minggu.Kitab kudus itu menyuruh menguduskan hari Sabtu, yaitu hari yang kita tidak  kuduskan.” Cardinal  James Gibbons, dalam buku “The Faith of Our Fathers,   hal 111.

KRISTEN :
“Tidak ada suatu perobahan hari Sabat dari hari ke-7 menjadi ke hari Pertama. Tidak ada satu bukti Alkitab yang mengatakan tentang perobahannya.” Dikutip dari buku “First – Day Observance”, hal 17, 19.

GEREJA KRISTUS :
“Saya tidak percaya bahwa hari Tuhan datang dari Sabat  Yahudi, atau hari Sabat sudah dirobah dari hari yang ke-7 ke hari yang pertama.” Alexander Camphell, “Washinton Reporter, October 8,1821.

CONGREGETIONAL :
“Suatu dugaan atau pendapat yang mengatakan bahwa Kristus dan Rasul-rasulNya sudah menggantikan hari yang ke-7 dengan hari yang pertama, adalah sesungguhnya tidak beralasan yang kuat dalam Perjanjian Baru.” Dr. Lyman Abbott, Christian Union.

EPISCOPAL :
“Apakah ada perintah didalam perjanjian Baru untuk merubah hari perhentian dalam Minggu dari hari Sabtu ke hari Minggu? Sama sekali tidak.”   Manual of Christian Doctrine.” Hal 127.

METHODIST :
“Ambillah hal-hal yang berbicara tentang hari Minggu… Tidak ada pasal yang berbicara atau mengatakan kepada orang Kristen untuk  menyucikan hari itu, ataupun memindahkan hari Sabat Yahudi ke hari Pertama.” Harris Franklin Rall, Christian Advocate, Juli 2, 1942.

LUTHERAN :
“Pemeliharaan hari Tuhan (hari Minggu) tidak terdapat dalam perintah Allah, tetapi terdapat pada kuasa gereja.” Augsburg Confession of  Faith, dikutip dari Catholic sabbath Manual, bagian ke-2, pasal 1, bagian ke 10.

PRESBITARIAN :
“Hari Sabat orang Kristen (hari Minggu) tidak terdapat dalam  Kitab Suci, dan tidak ada juga di Gereja Primitive yang menamakan dirinya  penganut Sabat.” Dwight’s Theology, jilid 4 hal. 401.

KAMUS :
“Dugaan tentang suatu pergantian secara resmi oleh kuasa para rasul tentang hari Tuhan (hari Minggu) terhadap Sabat Yahudi (atau hari Pertama  menggantikan hari ke-7) … dan soal kepindahannya, mungkin dalam bentuk rohani dari penetapan hari Sabat dari hukum ke-4, tidak mempunyai dasar baik dari Kitab Suci maupun orang Kristen zaman dulu.”  William Smith &  Samuel cheetham, A Dictionary of Christian Antiquites, Jilid 2, hal 182.

ENCYCLOPEDIA :
“Haruslah diakui bahwa tidak ada peraturan atau hukum di  dalam Perjanjian Baru berbicara tentang hari Pertama.” M’Clintock and Strong, Encyclopedia of Biblical, Theological and Wcclestical Literatur, Jilid 9, Hal   196.

Bersambung ke pembahasan bagian berikut.

Selanjutnya: Bagian 8. Perubahan Besar (10 Hukum Tuhan Dirubah)