hari sabat

mengubah sabat ke minggu

Bagian 5. Biang Keladi (Pengubah Hari Perbaktian)

Sebelumnya: Bagian 4. 40 Bukti Alkitabiah Perihal “Hari Minggu”

Bagian 5

“BIANG KELADI”

TUNGGU DULU! Sebelum Anda Membaca Lebih Lanjut Bacalah Kembali Pernyataan di Bawah ini (Disclaimer)

Satu hal yang kami ingin Anda pahami bahwa KAMI MENGASIHI SAUDARA….
”We Love You”

Kami Mencintai Saudara

Kami Mencintai Saudara

DISCLAIMER

KASIH adalah satu-satunya alasan bagi kami dalam membagikan pelajaran ini. ALKITAB merupakan sumber utama dari pelajaran yang kami bagikan ini. (ALKITAB yang diakui dan dikeluarkan oleh lebaga resmi yaitu Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dan dipakai oleh persekutuan gereja seluruh Indonesia).

Pelajaran ini bukan bersifat MEMAKSA atau suatu KEHARUSAN untuk diikuti dan diyakini. Anda BEBAS memilih: Jika anda ingin belajar lebih dalam lagi silahkan anda menghubungi kami lewat kontak yang tertera, tapi, jika anda merasa pelajaran ini bukan untuk anda maka anda bebas untuk memilih.

Pelajaran ini bukan dimaksudkan/ditujukan untuk MENYINGGUNG apalagi MENGHAKIMI keyakinan saudara-saudari. Kami mencintai saudara dan saudari dari semua keyakinan dan kami percaya bahwa Firman Tuhan diberikan untuk seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Pelajaran ini menyajikan beberapa prinsip kebenaran yang sangat KOKOH, dan untuk itu kami harus menitikberatkan aspek-aspek “POSITIF dan NEGATIF” dari berbagai dogma agama. Kita tahu bahwa sejumlah perkara-perkara “JELEK” telah terjadi atas nama “AGAMA” dan “KEKRISTENAN” dalam sejarah masa lalu – dan bagi kami untuk SECARA EFETIF mengatakan semua yang harus disampaikan, bagi sebagian pembaca/pengunjung mungkin akan menganggap kami TERLALU GAMBLANG DAN MENYINGGUNG, jika anggapannya demikian KAMI MOHON MAAF. Satu hal yang memalukan kita sekarang ini ialah bahwa tampaknya kita semua perlu “BERDEBAT” mengenai begitu banyak hal yang bersifat ROHANI!…Apa yang kami inginkan ketika ada mengunjungi website ini ialah untuk tetap mengingat akan satu hal: “KASIH” dan percayalah bahwa kasilah yang memotivasi penekanan kami!

PENTING!

Jika (Anda) tiba pada satu titik dimana saudara dan saudari merasa pelajaran ini bukan untuk Anda (meskipun sudah dijelaskan beserta bukti-buktinya) maka abaikanlah pelajaran ini, janganlah kiranya saudara dan saudari merasa tersinggung apalagi marah, mintalah Roh Kudus untuk menuntun kita menemukan kebenaran sejati di dalam ALKITAB yang kita rindukan bersama.

Janganlah memandang hal ini sebagai suatu “Kemarahan” ataupun “Kebencian.” Adalah suatu keharuan yang mendalam, terdorong oleh “kekhwatiran” bahwa banyak orang tidak ambil peduli, atau mendengar apa yang harus kami sampaikan. KASIH adalah satu-satunya alasan yang memotivasi kami untuk membagikan pelajaran ini. Kami mempersembahkan pelajaran ini, atas dasar KEPEDULIAN dan KASIH kepada saudara-saudari yang selama ini belum mengetahui yang sesungguhnya. Kami mohon maaf jika dalam usaha membeberkan kebenaran ini ada pihak yang merasa tersinggung. Bila Saudara tidak siap dan merasa tersinggung, berhentilah membaca pelajaran ini, namun tetaplah mempelajari Alkitab. Doa kami agar ROH KUDUS menerangi pekabaran ini di hati saudara-saudari.

Jika Anda sudah selesai MEMBACAnya, Mari kita lanjutkan pelajaran ini….

GEREJA (KATOLIK) ROMA MERUPAKAN SUMBER DARI PERBAKTIAN HARI MINGGU DI LINGKUNGAN DUNIA KRINSTEN.

Ingat! Ketika berbicara mengenai Gereja (Katolik) Roma kami tidak berbicara mengenai jemaat atau pribadi, tapi berbicara tentang suatu kekuasaan atau kekuatan yang dapat mengatur banyak orang.

Dan ini merupakan perubahan BESAR dalam sejarah Kristen.

Gereja Roma Katolik

Gereja Roma Katolik

Gereja Roma Katolik  mengubah SABAT dari SABTU ke hari MINGGU

Perubahan ini terjadi pada periode antara Tahun 200-400 Tarik Masehi.

Orang-orang kafir dalam Kerajaan Roma adalah penyembah matahari yang meng-keramat-kan hari Minggu (sun’s day). Para kaisar Roma pun menyatakan diri mereka sebagai dewa matahari, memeteraikan lambang matahari di atas mata uang mereka dan membangun serta menuntut penyembahan dari rakyat. Kaisar Constantine adalah kaisar yang berkuasa saat itu dan kaisar Constantine adalah penyembah dewa matahari dan penyembah matahari selalu mengadakan upacara penyembahan pada hari Minggu, sementara itu Kristen semakin berkembang dan kaisar Constantine sadar bahwa dia tidak akan bisa mencegah itu. Oleh karena itu kaisar Constantine memutuskan untuk berpindah agama dan masuk dalam Gereja Roma, tapi tidak dengan pertobatan yang sesungguhnya.

Kaisar Constantine berusaha memasukan unsur-unsur kekafirannya, yaitu menyembah dewa matahari, upacara penyembahan dewa matahari pada hari Minggu (Sun’s day) dan Kebangkitan Kristus pada hari pertama (hari Minggu) dalam minggu telah menjadi jembatan antara kekafiran dan keKristenan. Beberapa ahli teologia percaya bahwa gereja Roma melihat suatu keuntungan dalam berkompromi dengan agama kafir. Ada keuntungan timbalbalik antara Gereja Roma dan Kerajaan Roma. Dengan mengambil beberapa kebiasaan kafir, maka orang-orang kafir akan bertobat menjadi orang Kristen lebih cepat dan lebih merasa senang. Juga akan menguntungkan kerajaan Roma karena menyatukan rakyatnya menjadi satu agama yang besar. Maka terciptalah satu gereja yang dikenal sebagai “Gereja Roma (Katolik) Kafir.” Gereja yang berkompromi dengan kekafiran.

Dengan jalan berkompromi, maka para pemimpin gereja yang mula-mula, secara bertahap sudah meninggikan hari Minggu sebagai pengganti hari Sabat yang benar. Namun demikian permeliharaan hari Sabat masih tetap dipraktekkan. Di berbagai tempat pembela-pembela kebenaran Allah yang setia tidak rela menyerahkan pernyataan Allah yang sudah ada dalam hati nurani mereka. Bagi mereka, hari Sabat itu bukanlah sekedar hari saja. Hal itu adalah masalah ketaatan kepada Allah.

Bukan hanya SABAT yang di rubah tetapi juga ada perubahan-perubahan lain seperti perubahan…adanya patung-patung didalam gereja …penyembahan terhadap “Bunda Maria” (patung bunda Maria) …10 Hukum dirubah, hukum ke 2: Jangangan membuat bagimu patung dan menyembahnya (Kel 20:4) dihapus, dan sebagai gantinya hukum ke 10 di bagi dua menjadi: Jangan mengingini istrimu (menjadi hukum ke 9) dan Jangan mengingini harta sesamamu (menjadi hukum ke 10) dengan demikian tetap menjadi 10 hukum (palsu) setelah hukum kedua di hapus, hukum ke 2 di hapus karena orang kafir gemar menyembah patung. Hal ini dilakukan agar Kekristenan itu menjadi lebih menarik bagi orang-orang KAFIR.

Bersambung ke pembahasan bagian berikut.

Selanjutnya: Bagian 6. Undang-undang Hari Minggu Kaisar Konstantin