hari sabat

undang-undang hari minggu

Bagian 6. Undang-undang Hari Minggu Kaisar Konstantin

Sebelumnya: Bagian 5. Biang Keladi (Pengubah Hari Perbaktian)

Bagian 6

UNDANG-UNDANG HARI MINGGU KAISAR KONSTANTIN (dan GEREJA KATOLIK ROMA)

 

Baca halaman disclaimer kami klik disini.

Pertobatan kaisar Constantine yang palsu itu telah membanjiri Gereja dengan KEKAFIRAN! …patung-patung …penyembahan terhadap “Bunda Maria” …pengakuan Kaisar bahwa dirinya allah …dan PERBAKTIAN PADA HARI MATAHARI!

Pemeliharaan/penyucian hari Minggu (hari matahari) semakin diteguhkan di abad-abad selanjutnya:

~ Undang-undang sipil yang pertama mengenai hari Minggu, diberlakukan oleh Kaisar Constantine di Roma tanggal 7 Maret tahun 321 M, yang berbunyi : “Pada Hari Matahari yang dihormati hendaknya para pembesar dan rakyat yang bertempat tinggal di kota berhenti, dan hendaknya semua bengkel ditutup. Namun di pedesaan, orang-orang yang bertani boleh dengan bebas dan sah meneruskan pekerjaan mereka.” (History of the Christisn Church, edisi tahun 1902, jilid 3, hal 380).

~ Langkah berikutnya dalam menjadikan pemeliharaan hari Minggu lengkap sebagai bagian agama Kristen, diambil oleh gereja di Roma dalam Konsili Laodekia. Konsili itu membuat undang-undang agama pertama mengenai memelihara hari Minggu. “Pada tahun 325, Sylvester, Bishop Roma … secara resmi mengubah sebutan hari pertama, dengan menyebutnya hari Tuhan.” (Historia Ecleslastica, hal 739).

~ Pada Konsili Laodekia lain, tahun 364, dibuat undang-undang berikut:

“Orang-orang Kristen bukanlah penganut agama Yahudi dan tidak boleh bermalas-malas pada hari Sabtu …, tetapi harus bekerja pada hari itu; tetapi hari Tuhan khususnya harus mereka hormati, dan sebagai orang-orang Kristen, jika sekiranya mungkin, tidak boleh bekerja pada hari itu. Namun, jika mereka ketahuan sebagai penganut agama Yahudi (memelihara Sabat), mereka akan dikeluarkan … dari Kristus.” (A History of Councils of the Church, jilid 2, hal 316).

Salah satu ciri yang paling nyata dari orang Yahudi adalah pemeliharaan hari Sabat. Karena pemeliharaan hari Sabat adalah juga bagian dari gereja Kristen mula-mula, maka beberapa penguasa Romawi menganggap Kekristenan sebagai satu sekte Yahudi. Karena dihubungkan dengan sekte Yahudi inilah maka banyak orang Kristen dianiaya di zaman permulaan sejarah gereja ini. Dan penganiayaan ini telah menuntun beberapa bishop gereja untuk mencari jalan keluar agar tidak menghubungkan Kekristenan mula-mula itu dengan agama Yahudi. Maka secara berangsur hari ibadah pada hari Sabat berpindah ke hari Minggu, demi membedakan diri dengan bangsa Yahudi dan menghindari penganiayaan Roma.

~ Meskipun demikian, orang-orang Kristen masih tetap memelihara hari Sabat (Sabtu) pada abad keenam, sehingga Paus Gregory mengumumkan, “mereka yang mempertahankan bahwa pekerjaan tidak boleh dilakukan pada hari yang ketujuh adalah sebagai nabi-nabi antikristus.” (The Law of Sunday, dikutip dalam Carlyle B. Haynes, From Sabbath to Sunday, hal 43).

Untuk menghentikan orang-orang Kristen berbakti pada hari keTujuh setiap pekan, gereja Roma yang bekuasa mengeluarkan sederetan undang-undang untuk menjamin pemeliharaan hari Minggu — Dengan ancaman hukuman mati.

DEMIKIANLAH MEREKA “GEREJA ROMA KAFIR” SECARA PAKSA MEMBATALKAN HARI SABAT!

 

Nah, ingatlah: Inilah gereja yang sama yang menjalankan penganiayaan, guna memastikan “penurutan total”! sudah menjadi fakta sejarah (yang diketahui umum) bahwa sejumlah 50-100 juta orang Kristen yang dianggap “MURTAD” karena mempertahankan kebenaran ALKITAB telah dihukum mati oleh gereja Roma selama lebih dari 12 abad gereja Roma menguasai Eropa!. Dalam sejarah Eropa, pengaruh agama (gereja) menancap kuat dalam kehidupan manusia dan masyarakat. Pada waktu itu kekuasaan Paus dengan tahta suci Roma merupakan kekuasaan yang tidak tergugat. Kekuasaan ini tidak hanya menyangkut bidang agama, namun juga bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan dalam ilmu pengetahuan.

Sedikit tentang gerakan reformasi oleh Marthin Luther:

Kita tahu bersama Mathin Luther sebagai pelopor dari gerakan reformasi  lahir pada tanggal 10 November 1483 dan wafat pada tanggal 18 February 1546 pada umur 62 tahun. Marthin Luther menganggap penjualan indulgensia ini sebagai penyelewengan yang dapat menyesatkan umat. Luther menyampaikan tiga khotbah menentang indulgensia ini pada 1516 dan 1517 (Indulgensia adalah surat penghapusan dosa).

Gereja mula-mula adalah gereja Katolik Roma, gereja mula-mula ini sudah membatalkan hari Sabat pindah ke hari Minggu jauh sebelum Marthin Luther lahir.  Martin Luther sendiri sudah berbakti pada hari minggu ketika dia melakukan protes atas Indulgensia, dan protes yang dilakukan oleh Martin Luther tidak menyangkut hari Sabat. Setelah reformasi ini diadakan maka munculah gereja-gereja baru, geraja Lutheran …setelah itu gereja Baptis …setelah itu gereja Methodis …dan seterusnya (dan sampai kepada gereja yang Anda yakini saat ini). DAN PERBAKTIAN HARI MINGGU TERUS DIPRAKTEKAN oleh gereja-gereja baru, dan gereja-gereja itu sudah melupakan Sabat.

Kutipan dari buku The Faith of Millions:

“Karena hari Sabtu, bukan hari Minggu, ditetapkan dalam Alkitab, tidakkah aneh rasanya melihat bahwa non-Katolik yang mengaku mengambil agama mereka langsung dari Alkitab dan bukan dari gereja Katolik juga memelihara hari Minggu dan bukan hari Sabtu ?  Ya, tentu tidak konsisten; tetapi perubahan ini dibuat kira-kira lima belas abad sebelum aliran Protestan lahir. Pada waktu lahirnya Protestan kebiasaan itu sudah menyeluruh di bumi ini. Mereka melanjutkan kebiasaan itu sekalipun hanya didasarkan atas kekuasaan gereja Katolik dan bukan atas ayat Alkitab. Pemeliharaan hari Minggu itu menjadi suatu kenangan dari gereja induk dari mana berasal sekte-sekte non-Katolik ibarat seorang anak  lari meninggalkan rumah tetapi masih mengantongi potret ibunya atau jepitan rambut ibunya. (The Faith of Millions, hal 543, 544, John A. O’Brein, kata pengantar oleh Kardinal Griffing. W.H. Allen, London, thn 1958).

Bersambung ke pembahasan bagian berikut.

Selanjutnya: Bagian 7. Pengakuan Mengenai Hari Sabat