Zakharia

pengharapan

PENGLIHATAN PENGHARAPAN

Firman-Tuhan

PENGLIHATAN PENGHARAPAN (ZAKHARIA)”

SABAT PETANG: PENDAHULUAN

Rencana Tuhan bagi umat-Nya. Tuhan selalu punya rencana untuk umat-Nya dari zaman ke zaman. Seperti yang difirmankan Tuhan melalui nabi Yeremia, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yer. 29:11). Masalahnya, apakah umat Tuhan mau percaya dan berharap pada “rancangan damai sejahtera” dan “hari depan yang penuh harapan” seperti yang telah difirmankan-Nya itu.

Melalui nabi Zakharia (Ibr.: זְכַרְיָה, Zĕkaryah, artinya “Yahwe mengingat”) Tuhan menyatakan bahwa rencana-Nya itu tidak berubah. Bahkan, dalam penglihatan kepada sang nabi rencana-rencana ilahi tersebut bukan saja berlaku khusus untuk umat yang sisa di zaman Yehuda tetapi menjangkau jauh sampai kepada umat Allah yang sisa pada zaman akhir. “Melalui serangkaian penglihatan-penglihatan nubuat Zakharia mengetahui rencana-rencana Allah untuk waktu itu dan waktu yang akan datang. Kerajaan Allah yang kekal akan segera datang, tetapi sang nabi menyerukan kepada orang-orang yang hidup pada zamannya untuk melayani Tuhan sekarang. Satu bagian yang baik dari kitab itu terfokus pada bagaimana mereka harus melakukan tepat seperti itu” [alinea kedua: kalimat kedua hingga keempat].

Meskipun orang Yehuda yang baru kembali dari pembuangan itu berada dalam keadaan yang sulit dengan sumberdaya yang serba terbatas, namun apabila mereka bertobat dan kembali kepada Tuhan maka Ia akan memelihara dan memberkati mereka (Za. 1:3). Bahkan suatu hari kelak mereka bisa menikmati kembali kemakmuran dan kesentosaan yang telah terenggut akibat dosa-dosa nenek moyang mereka. “Bilamana hari itu tiba, setiap orang akan mengundang tetangganya untuk datang dan menikmati damai dan sentosa di tengah-tengah kebun-kebun anggur dan pohon-pohon aramu” (Za. 3:10, BIMK; ayat hafalan).

Jangka pendek dan jangka panjang. Zakharia adalah salah satu dari tiga nabi yang melayani Tuhan dan bernubuat bagi umat Yehuda yang baru pulang ke Yerusalem dari pembuangan di Babel. Dua nabi lainnya adalah Hagai dan Maleakhi. Berdasarkan penjelasan di awal kitabnya kita mengetahui bahwa Zakharia memulai pelayanannya dua bulan sesudah Hagai menerima khayal yang pertama (bandingkan Za. 1:1 dengan Hag. 1:1), yaitu sekitar akhir Oktober dan awal November tahun 520 SM. Jadi, kedua nabi itu sempat bekerja melayani Tuhan dalam waktu bersamaan. Informasi perihal kerjasama kedua nabi ini kita dapati dalam tulisan nabi Ezra (Ezr. 5:1; 6:14). Seperti Hagai, nabi Zakharia juga diutus untuk mengingatkan kaum Yehuda yang pulang dari pembuangan itu perihal proyek pembangunan kembali Bait Suci di Yerusalem (Za. 1:16-17; 4:9; 6:15).

Pekabaran dalam kitab Zakharia mengandung dua bagian. Pertama, untuk mendorong semangat umat Yehuda agar tidak putus asa dalam usaha mereka untuk membangun kembali Bait Suci (pasal 1-8); kedua, janji tentang masa depan umat Tuhan secara keseluruhan (9-14). Pernyataan Zakharia bahwa penglihatan-penglihatan yang diterimanya adalah “pada tahun kedua zaman Darius” (Za. 1:1) dan “tahun keempat zaman raja Darius” (7:1) memberi petunjuk kepada kita bahwa pekabaran itu diterimanya dalam rentang waktu antara tahun 520-518 SM. Bagian kedua yang dimulai dengan pernyataan “Ucapan Ilahi. Firman TUHAN datang atas negeri Hadrakh dan berhenti di Damsyik” (9:1)–versi BIMK: “Inilah pesan TUHAN. Ia telah memutuskan untuk menghukum negeri Hadrakh dan kota Damsyik”–merupakan pekabaran yang berbeda baik isi maupun gaya penuturannya. Dalam bagian kedua ini kita juga akan menemukan nubuatan tentang kedatangan Mesias yang menyediakan keselamatan bukan saja kepada bangsa Israel tetapi juga kepada semua bangsa di dunia. Berdasarkan dua bentuk pebakaran yang berbeda itulah maka penulis pelajaran SS ini menurunkannya secara terpisah, bagian pertama pada Sabat ini (15 Juni) dan bagian kedua untuk Sabat depan (22 Juni). Dapat dikatakan bahwa pekabaran dalam kitab Zakharia mengandung dua perspektif, jangka pendek dan jangka panjang.

Sebagaimana kita pelajari dalam pelajaran pekan lalu, nubuatan tentang Mesias telah disinggung dalam kitab Hagai (lihat pelajaran hari Kamis, 6 Juni), tetapi dalam kitab Zakharia pekabaran tentang Mesias itu diungkapkan lebih rinci lagi. Adalah Zakharia yang bernubuat tentang Mesias–yaitu Yesus Kristus–yang akan disambut meriah ketika Ia memasuki kota Yerusalem mengendarai seekor keledai (Za. 9:9, bandingkan dengan Mat. 21:4-5 dan Yoh. 12:14-15). Bahkan juga menubuatkan perihal jumlah uang suap untuk mengkhianati Yesus (Za. 11:12-13, bandingkan dengan Mat. 27:9-10), mengenai Yesus yang akan ditikam (Za. 12:10, bandingkan dengan Yoh. 19:37), dan tentang kematian-Nya yang akan menghapus dosa bangsa itu (Za. 13:1, bandingkan dengan Yoh. 1:29 dan Tit. 3:4-7).

Pekabaran nabi Zakharia, seperti juga nabi-nabi lainnya, adalah pekabaran yang mengandung pengharapan. Betapa pun beratnya kehidupan ini kalau kita mau datang dekat kepada Tuhan dan bergantung pada-Nya niscaya kita akan terus hidup. Semua orang yang masih bernafas selalu mempunyai kesempatan untuk bertobat, tetapi orang yang sudah berada di alam maut tidak mungkin mengingat Tuhan (Mzm. 6:6). Jadi, selama nafas dikandung badan setiap orang tetap memiliki pengharapan. Seperti semboyan Marcus Tullius Cicero (106-43 SM), negarawan dan juga filsuf Romawi: “Dum spiro spero” (Sementara aku bernafas, aku berharap).

MINGGU: PERCAYA PADA PENGHARAPAN (Firman Kehidupan yang Menghiburkan)

Merisaukan masa depan. Pulang kampung adalah saat paling membahagiakan bagi hampir setiap orang yang telah lama hidup di perantauan. Kampung halaman selalu memiliki daya tarik yang sangat kuat, tidak saja bagi masyarakat tradisional tapi juga masyarakat moderen. Bukan hanya di Indonesia ada hiruk-pikuk arus mudik menjelang Hari Raya Lebaran dan Natal, tapi suasana yang sama juga kita bisa saksikan setiap tahun menjelang “Thanksgiving Day” yang di Amerika Serikat selalu jatuh pada hari Kamis keempat bulan November, dan di Kanada pada setiap hari Senin kedua bulan Oktober.

Bagi bangsa Israel, khususnya rakyat Yehuda, suasana pulang kampung disambut dengan sorak-sorai setelah mereka mengalami hidup sebagai tawanan di negeri asing selama 70 tahun masa pembuangan seperti yang dinubuatkan dan digenapi atas bangsa itu (Yer. 25:11; 29:10). Namun setelah sampai di Yerusalem dan menyaksikan reruntuhan kota itu, tidak sedikit dari rakyat itu menangis tersedu-sedu. Kebebasan adalah dambaan setiap orang, tetapi tidak setiap kebebasan menjanjikan jaminan untuk masa depan.

“Pulang dari pembuangan ke Babilon mencetuskan sukacita di hati umat yang sisa itu. Tetapi kepulangan itu juga menimbukan kecemasan. Akankah mereka aman dan nyaman di negeri mereka, atau musuh akan datang lagi untuk mengusik mereka? Sudahkah Tuhan mengampuni ketidaksetiaan mereka di masa lampau, atau Ia akan teruskan penghukuman mereka? Apakah pegangan masa depan bagi umat pilihan Allah dan bagi bangsa-bangsa itu?” [alinea pertama].

Janji pemeliharaan Tuhan. Penglihatan kedua yang datang kepada Zakharia memperlihatkan serombongan penunggang kuda yang mengendarai kuda-kuda berwarna merah, merah jambu dan putih, dipimpin oleh seorang penunggang kuda berwarna merah yang siaga di antara pohon-pohon murad (Za. 1:8). Pohon murad (Latin: (L. Myrtis communis) adalah tumbuhan khas yang banyak terdapat di wilayah Palestina, yang dalam bahasa Ibrani disebut הֲדַס, hadas. Nama Ibrani dari ratu Ester, yaitu Hadasa (Est. 2:7), berasal dari akar kata yang sama. Tumbuhan sejenis bakau yang bisa mencapai tinggi sampai 10 meter ini senantiasa hijau, dan bunganya yang berwarna putih serta wangi suka dipakai sebagai bahan baku wewangian. Pohon murad sering digunakan dalam PL sebagai lambang pemeliharaan Allah terhadap umat-Nya (Yes. 41:19; 55:13).

Zakharia menyaksikan pemandangan itu dengan takjub dan bingung, “Tuan apakah artinya semua kuda ini?” (Za. 1:9, BIMK). Penunggang kuda merah itu lalu menjelaskan, “Kami telah menjelajahi seluruh muka bumi, ternyata dunia ini tenang dan tentram” (ay. 11, BIMK). Sesudah laporan tersebut, malaikat pemandu nabi itu kemudian berbicara seakan sedang mewakili umat Yehuda, “TUHAN Yang Mahakuasa, tujuh puluh tahun lamanya Engkau murka kepada Yerusalem dan kota-kota di Yehuda. Sampai kapan Engkau akan tetap marah dan tidak mengampuni mereka?” (ay. 12, BIMK). Tuhan menjawab, “Aku amat mengasihi dan memprihatinkan kota Yerusalem, kota-Ku yang suci. Tetapi Aku amat marah kepada bangsa-bangsa yang merasa aman dan tentram… Sekarang Aku kembali ke Yerusalem untuk memberi pengampunan kepada kota itu. Rumah-Ku akan dibangun kembali dan kota Yerusalem akan dipulihkan lagi” (ay. 14-16, BIMK). Sang malaikat kemudian menugaskan Zakharia untuk meneruskan pekabaran yang melegakan hati itu kepada umat Yehuda, “TUHAN Yang Mahakuasa berjanji bahwa kota-kota-Nya akan menjadi makmur kembali dan bahwa sekali lagi Ia akan menolong Yerusalem dan mengakuinya sebagai milik-Nya sendiri” (ay. 17, BIMK).

“Zakharia 1:14 membenarkan bahwa Allah memang telah murka, tetapi Ia berjanji untuk membalasnya dengan kenyamanan. Maksud-Nya, yang kepada nabi itu disuruh untuk mengumumkannya, ialah berbalik ke Yerusalem dengan rasa belas kasihan. Tuhan akan menghiburkan Sion (baca Yes. 40:1), sementara murka-Nya akan ditujukan kepada musuh-musuh-Nya. Yerusalem akan dipulihkan, dan tempat itu akan kembali menjadi tempat kediaman Tuhan” [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Orang Kristen selamanya mempunyai penolong yang kuat di dalam Tuhan. Cara pertolongan Tuhan itu mungkin kita tidak tahu, tetapi inilah yang kita ketahui: Ia tidak pernah akan mengecewakan orang-orang yang menaruh kepercayaan mereka kepada-Nya. Sekiranya umat Kristen menyadari berapa banyak kali Tuhan telah mengatur jalan mereka, supaya tujuan musuh itu terhadap mereka tidak akan tercapai, niscaya mereka tidak akan berjalan tertatih-tatih sambil mengeluh. Iman mereka akan tetap pada Tuhan dan tidak ada cobaan akan berkuasa menggoyahkan mereka. Mereka akan mengakui Dia sebagai hikmah dan dayaguna mereka, dan Ia akan melaksanakan apa yang Ia ingin kerjakan melalui mereka” (Ellen G. White, Prophets and Kings, hlm. 576).

Apa yang kita pelajari tentang janji Tuhan yang menghiburkan?

1. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang cerdas dan mampu memikirkan tentang masa depan, tetapi karena kemampuan itulah kita justeru bisa menjadi resah. Sementara umat Yehuda itu gembira bisa kembali ke tanah air, mereka pun risau akan masa depan.

2. Takut akan Tuhan sebagai permulaan hikmat (Ams. 9:10) itu berbeda dengan takut akan Tuhan sebagai akibat perbuatan dosa (Kej. 3:10). Orang Yehuda masih merasa takut kepada Tuhan karena menyadari dosa mereka dan dosa orangtua mereka di masa lampau.

3. Allah menghukum umat-Nya berpangkal dari kasih dan bertujuan untuk kasih. Sementara murka Allah atas umat-Nya yang bertobat akan dibalas dengan kesenangan, murka Allah atas bangsa-bangsa yang telah menimbulkan penderitaan atas umat-Nya akan dibalas dengan hukuman.

SENIN: MENJADI BERKAT BAGI ORANG LAIN (Tuhan Segera Datang)

Biji mata Tuhan. Penglihatan ketiga yang muncul kepada nabi Zakharia adalah malaikat yang sedang membawa tali pengukur untuk mengukur luas kota Yerusalem (Za. 2:1-2). Lazimnya, pengukuran seperti itu dimaksudkan untuk memastikan bahwa sebuah kota cukup besar untuk menampung penduduknya. Hal ini cukup mencengangkan sebab pada waktu itu warga Yerusalem tinggal sedikit dan ternak mereka pun belum begitu banyak seperti dulu, seningga pengukuran tersebut sesungguhnya tidak diperlukan. Kota itu masih cukup luas untuk menampung warganya yang tersisa. Tetapi keraguan itu langsung terjawab ketika malaikat kedua muncul dan mendapat pesan dari malaikat pertama: “Pergilah cepat kepada pemuda itu, dan katakan kepadanya bahwa Yerusalem akan begitu padat dengan manusia dan ternak sehingga tak mungkin dibangun tembok di sekelilingnya. TUHAN telah berjanji bahwa Ia sendiri akan menjadi tembok api yang mengelilingi kota itu untuk melindunginya dan Ia akan tinggal di sana dalam segala kuasa dan keagungan-Nya” (ay. 4-5, BIMK).

Nubuatan ini digenapi hampir 25 abad kemudian ketika “diaspora Yahudi” (orang-orang Yahudi yang tersebar di seluruh dunia) pulang dan membangun negeri mereka kembali. Sesudah PD II (Perang Dunia kedua) keturunan Yahudi yang terserak di 102 negara mendirikan negara Israel yang merdeka dan berdaulat. Proklamasi itu diucapkan oleh pemimpin Israel moderen, Ben Gurion, pada tanggal 14 Mei 1948 di Tel Aviv segera setelah pasukan Inggris yang terakhir meninggalkan tanah Israel pada hari yang sama. Proklamasi itu langsung diakui oleh dua kepala negara adidaya pada waktu itu, masing-masing presiden Harry S. Truman dari AS dan Joseph Stalin dari Uni Sovyet. Orang-orang Yahudi meyakini bahwa berdirinya negara Israel moderen adalah kegenapan dari nubuatan Alkitab, dan kota Yerusalem moderen tidak memerlukan tembok perlindungan. “Aku telah menceraiberaikan kamu ke segala penjuru. Tetapi sekarang hai orang-orang buangan, larilah dari Babel dan kembalilah ke Yerusalem. Siapa yang menyerang kamu, menyerang buah hati-Ku” (Za. 2:7-8, BIMK).

“Kembalinya Tuhan secara dramatis untuk tinggal di rumah yang dibangun kembali menyebabkan orang-orang yang pulang dari pembuangan itu memuji Tuhan. Sion, tempat tinggal Raja Agung yang disebut ‘Putri Sion,’ adalah satu sebutan nubuatan yang berarti kasih sayang. Mengingat prospeknya yang mulia itu, Sion diajak untuk bersukacita oleh karena Tuhan sendiri akan memelihara umat-Nya. Siapa saja yang menyentuh umat-Nya berarti menjamah biji mata-Nya (ay. 8)” [alinea kedua].

Rahasia Kabar Baik. Allah bersabda, “Bersorak-sorailah dan bersukarialah, hai puteri Sion, sebab sesungguhnya Aku datang dan diam di tengah-tengahmu, demikianlah firman Tuhan; dan banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada Tuhan pada waktu itu dan akan menjadi umat-Ku dan Aku akan diam di tengah-tengahmu” (ay. 10-11). Sementara sebagian orang menyangka bahwa perkataan Tuhan ini akan digenapi secara fisik–sebagaimana orang Yahudi berharap bahwa Mesias yang dijanjikan itu akan datang sebagai raja yang membebaskan mereka dari jajahan Romawi secara fisik–nubuatan ini sejatinya bertutur tentang pekerjaan Yesus Kristus yang telah dimulai di kota Yerusalem dan akan meluas sampai kepada bangsa-bangsa kafir di seluruh dunia.

Rasul Paulus, penginjil Yahudi pertama yang menginjil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi, memahami makna sebenarnya dari nubuatan ini (Rm. 15:11-12), berkata: “Saya memberitakan kabar itu sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Allah; yaitu tentang rencana Allah yang sudah berabad-abad lamanya tidak diketahui orang. Tetapi sekarang, atas perintah Allah yang abadi, rencana itu sudah dinyatakan dan diberitahukan kepada semua bangsa melalui tulisan-tulisan para nabi, supaya mereka semuanya percaya dan taat kepada Allah” (Rm. 16:25-26, BIMK). “Allah mengungkapkan rahasia rencana-Nya dan memberitahukannya kepada saya…Dahulu rahasia itu tidak pernah diberitahukan kepada manusia, tetapi sekarang Roh Allah sudah menyatakannya kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya. Rahasia itu ialah ini: Melalui Kabar Baik itu, orang bukan Yahudi turut merasakan berkat-berkat Allah yang dahulu disediakan hanya untuk orang Yahudi. Orang-orang bukan Yahudi sudah menjadi anggota dari tubuh yang sama, dan turut menerima apa yang dijanjikan Allah melalui Kristus Yesus” (Ef. 3:3-6, BIMK).

“Melalui nubuatan Zakharia, Allah tidak menjanjikan kehancuran bangsa-bangsa melainkan dimasukkannya mereka di antara umat perjanjian Allah. Masa depan yang dijanjikan itu merupakan hasil dari prakarsa Allah sendiri dan menjadi kerinduan dari banyak nabi-nabi Alkitab. Yesus Kristus menugaskan gereja-Nya untuk mengkhotbahkan kabar baik tentang keselamatan ke seluruh dunia yang semua orang harus temukan di dalam Yesus, kalau mereka menerimanya bagi diri mereka sendiri” [alinea terakhir: tiga kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang berkat Kabar Baik yang terbit dari Yerusalem?

1. Penglihatan ketiga nabi Zakharia tentang Yehuda adalah nubuatan jangka panjang. Sion (Yerusalem) akan menarik banyak bangsa untuk menerima berkat yang sama. Ini adalah janji Tuhan kepada Abraham, “olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:3).

2. Sejak semula bangsa Israel dipilih Allah untuk menjadi saluran kasih dan rahmat-Nya kepada segala bangsa, tetapi semangat eksklusivisme (keterpisahan dari yang lain) membuat rencana itu sulit dilaksanakan. Umat “Israel rohani” pada zaman akhir juga menghadapi godaan eksklusivisme yang sama.

3. Injil–Kabar Baik–adalah sesuatu yang bersifat universil (kesemestaan) dan inklusif (kesertaan bersama). Kita adalah “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” supaya kita “memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia” (1Ptr. 2:9).

SELASA: INJIL DALAM KITAB ZAKHARIA (Kesiapan Allah Untuk Mengampuni)

Puntung yang ditarik dari api. Penglihatan berikutnya yang disaksikan nabi Zakharia adalah tentang Yosua yang pada waktu itu sedang menjabat sebagai imam besar Yehuda (Hag. 1:1). Meskipun di situ ada iblis yang berdiri di samping Yosua untuk mendakwanya (Za. 3:1), ini bukan suasana persidangan ilahi. Setan mempersalahkan Yosua oleh karena imam besar yang melayani Tuhan itu mengenakan “pakaian kotor” (ay. 3) yang melambangkan tabiat yang tidak suci atau bercela. Sifat mencari-cari kekurangan dan kelemahan dari seorang hamba Tuhan yang sedang melayani pekerjaan-Nya merupakan ciri tabiat iblis.

Terhadap tuduhan Setan itu, malaikat Tuhan yang adalah Yesus Kristus langsung angkat bicara untuk membela Yosua. “TUHAN kiranya menghardik engkau, hai Iblis! TUHAN, yang memilih Yerusalem, kiranya menghardik engkau! Bukankah dia ini puntung yang telah ditarik dari api?” kata-Nya (ay. 2). Ungkapan “puntung yang telah ditarik dari api” menggambarkan seorang berdosa yang berhasil diselamatkan dari hukuman neraka berkat kasih karunia Yesus Kristus. Meskipun sudah diselamatkan, tabiat penuh cela yang digambarkan sebagai pakaian yang kotor itu harus diganti dengan tabiat Kristus. Itulah sebabnya Yosua harus menanggalkan pakaiannya yang cemar itu dan mengenakan pakaian baru pemberian Kristus. ”Lihat, dengan ini aku telah menjauhkan kesalahanmu dari padamu! Aku akan mengenakan kepadamu pakaian pesta,” kata malaikat Tuhan itu kepada Yosua (ay. 4). Selain itu kepadanya juga dipakaikan serban tahir atau ikat kepala yang kudus (ay. 5). Serban adalah perlengkapan imam besar saat bertugas di Bait Suci yang pada bagian tengahnya terdapat patam berbentuk materai yang terbuat dari emas murni dengan tulisan “Kudus Bagi Tuhan” (Kel. 28:36-38).

“Dengan pengecualian Yesaya pasal 53, mungkin tidak ada bagian dari Perjanjian Lama yang menyatakan kebenaran ajaib dari keselamatan oleh iman saja yang lebih baik dari Zakharia pasal 3. Dalam penglihatan ini imam besar Yosua sedang diuji dengan dakwaan-dakwaan yang diajukan oleh penuduh resmi, Setan…Tuhan menolak dakwaan-dakwaan itu dengan mengingatkan si penuduh bahwa dalam kemurahan-Nya Ia sudah memilih Yosua. Lagi pula, umat-Nya sudah menderita hukuman penuh dari penghakiman ilahi. Yosua dan umat yang sisa itu telah direnggut bagaikan puntung kayu yang sedang terbakar dari api kebinasaan (Amos 4:11) penawanan yang panjang di Babilonia” [alinea pertama: dua kalimat pertama, dan alinea ketiga].

Pekabaran bagi para hamba Tuhan. Beberapa fakta teologia penting yang kita temukan dari adegan dalam penglihatan nabi Zakharia yang menyangkut imam besar Yosua tersebut adalah: 1]. Meskipun terpilihnya seorang berdosa dengan tabiat yang bercela untuk melayani pekerjaan Tuhan merupakan hal yang tak terhindarkan, tapi orang yang terpilih itu mengemban tugas ilahi yang suci sehingga wajib untuk “berganti pakaian” dengan memperbaiki tabiatnya yang kotor. 2]. Hamba Tuhan yang terpilih melayani pekerjaan Tuhan tidak dapat memperbaiki tabiatnya dengan usaha sendiri, tetapi semata-mata hanya bergantung kepada Kristus yang akan memakaikan tabiat-Nya. Kewajiban hamba Tuhan itu ialah rela melepaskan “pakaian kotor” tabiatnya dan bersedia menerima “pakaian bersih” tabiat Kristus. 3]. Setiap orang yang berkecimpung dalam pekerjaan Tuhan yang suci wajib memelihara kesucian pikirannya, karena pada dahinya seolah-olah ada cap “Kudus Bagi Tuhan.”

Menjadi pemimpin dalam pekerjaan Tuhan adalah suatu kesempatan istimewa karena melaksanakan mandat dari Tuhan yang diwakili-Nya. Itulah sebabnya setiap pemimpin dalam pekerjaan Tuhan harus taat kepada hukum-Nya dan setia kepada tugas-tugas-Nya. “Kalau engkau mematuhi hukum-hukum-Ku dan melakukan tugas-tugas yang Kuberikan kepadamu, maka untuk seterusnya engkau boleh menjadi pemimpin di dalam Rumah-Ku dan mengurus pelatarannya. Aku akan mendengarkan doa-doamu, seperti Aku mendengarkan doa para malaikat yang berada di dekat-Ku” (ay. 7, BIMK). Dengan mengenakan tabiat Kristus, setiap hamba Tuhan menjadi “lambang” dari Kristus, Sang Tunas itu sendiri (ay. 8).

“Imam besar itu tidak dapat mempertahankan dirinya sendiri atau bangsanya dari tuduhan-tuduhan Setan. Dia tidak menyatakan bahwa Israel bebas dari kesalahan. Dengan berpakaian kotor yang melambangkan dosa-dosa orang banyak itu, yang dipikulnya sebagai perwakilan mereka, dia berdiri di hadapan Malaikat itu mengakui kesalahan mereka namun menunjuk kepada pertobatan serta kerendahan hati mereka, dan bersandar pada kemurahan Sang Penebus yang mengampuni dosa. Dengan iman dia menuntut janji-janji Allah” [alinea terakhir: empat kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang kesiapan Allah untuk mengampuni?

1. Dalam kitab Zakharia, seorang yang diampuni dosanya dan dikaruniai keselamatan digambarkan sebagai “puntung yang telah ditarik dari api.” Sekeping kayu yang sedang terbakar dalam tungku api tak dapat menyelamatkan diri, demikianlah manusia berdosa tak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

2. Injil atau Kabar Baik bukan teologia zaman Perjanjian Baru saja, tetapi itu adalah doktrin keselamatan sepanjang zaman sejak manusia jatuh dalam dosa. Injil pertama ditemukan dalam Kej. 3:15 dan terus diulang-ulangi dalam kitab para nabi, khususnya Yesaya 53 dan Zakharia 3.

3. Bukan hanya para pemimpin pekerjaan Tuhan serta hamba-hamba Tuhan lainnya yang harus menukar tabiatnya yang kotor lalu mengenakan tabiat Kristus yang suci, tetapi juga semua orang yang mengaku sebagai umat Tuhan dan pengikut Kristus. Sebab keselamatan itu bersifat pribadi, tidak bergantung pada para pemimpin.

RABU: ALLAH SUMBER KESUKSESAN (Bukan Oleh Kuasa Manusia)

Kuasa Allah yang terus mengalir. Seperti sudah kita pelajari bahwa pekabaran-pekabaran awal dari nabi Zakharia berkaitan dengan pembangunan kembali Bait Suci di Yerusalem. Kandil atau kaki lampu adalah satu perlengkapan utama untuk penerangan di dalam Bait Suci (Kel. 26:35; 35:14), dengan tujuh kepala lampu masing-masing tiga di setiap sisi dan satu di bagian tengah (Kel. 37:18, 23). Zakharia adalah keturunan imam (bandingkan Za. 1:1 dengan Neh. 12:4, 16) dan tentu saja sangat terbiasa dengan berbagai perlengkapan di Bait Suci, seperti kandil atau kaki dian yang berlampu tujuh itu. Tapi ada benda lain yang dilihatnya dalam khayal tersebut yang tidak pernah terdapat dalam kaabah Tuhan, yaitu pohon zaitun (Za. 1:4).

Dalam Alkitab versi TB, dua pohon zaitun itu disebut “terukir” di sebelah kanan dan kiri (ay. 3), sedangkan dalam versi TL dan BIMK dua pohon zaitun itu “ada” di kedua sisi yang menandakan bahwa pohon-pohon itu berada terpisah dari kandil. Dalam bahasa asli PL, Ibrani, kedua pohon zaitun itu disebut sebagai “pada” atau “berada” (עַל־, ‘al-) di sebelah kanan dan kiri, sedangkan kata “terukir” (Ibr.: חֲרוּשָׁה֙, ḥărūšāh) sama sekali tidak ada dalam ayat ini. Selain itu, kalau mengikuti versi TB maka bunyi ayat 3 ini menjadi tidak konsisten dengan bunyi ayat 11 yang mengatakan bahwa kedua pohon zaitun itu adanya “di sebelah kanan dan di sebelah kiri kandil itu.”

Apa arti semuanya ini? Setelah memastikan bahwa sang nabi tidak mengerti artinya, maka malaikat yang menemaninya itu memberi penjelasan. Mengenai kandil: “Ketujuh lampu itu adalah ketujuh mata TUHAN yang mengawasi seluruh muka bumi” (ay. 6, BIMK; ay. 10, TB). Perihal dua pohon zaitun: “Itu adalah dua orang yang telah dipilih oleh TUHAN alam semesta dan ditunjuk untuk melayani Dia” (ay. 10, BIMK; ay. 14, TB). Dengan pertolongan kuasa Tuhan maka Zerubabel dan Yosua, dua pemimpin Yehuda itu, tidak akan mengalami halangan apapun untuk melaksanakan rencana Allah membangun kembali Bait Suci di Yerusalem. “Bukan dengan kekuatan militer dan bukan pula dengan kekuatanmu sendiri engkau akan berhasil, melainkan dengan roh-Ku. Rintangan sebesar gunung pun akan tersingkir dari depanmu. Engkau akan membangun kembali Rumah-Ku, dan pada saat engkau meletakkan batu yang utama di tempatnya, orang-orang akan berseru, ‘Alangkah indahnya!’” (ay. 11-12, BIMK; ay. 6-7, TB).

“Mangkuk itu (“corot” atau “tempat minyak” dalam Za. 4:2), dengan pasokan minyak yang berlimpah, melambangkan kepenuhan kuasa Allah melalui Roh-Nya. Ketujuh lampu itu bersinar dengan cahaya gemerlapan adalah lambang dari keabadian hadirat Allah yang menghalau semua kekelaman. Sama seperti minyak zaitun mengalir dari pohon langsung ke wadah minyak di atas kandil itu tanpa perantaraan manusia, demikianlah kuasa yang datang dari Allah itu tetap dan cukup yang juga tidak memerlukan perantaraan manusia” [alinea kedua].

Bukan oleh kehebatan manusia. Dalam perspektif sekuler setiap program kerja atau proyek pembangunan fisik apapun membutuhkan dukungan sumberdaya, materil dan non-materil. Bahkan bila perlu termasuk juga dukungan kekuasaan (negara atau pejabat negara). Pekerjaan Tuhan juga memerlukan sumberdaya yang sama demi suksesnya sesuatu kegiatan. Bedanya, kalau keberhasilan pekerjaan manusia semata-mata bergantung pada sumberdaya duniawi yang disebutkan tadi, maka kesuksesan pekerjaan Tuhan lebih bergantung pada sumberdaya ilahi yaitu kuasa Allah. Allah selalu bekerja melalui Roh-Nya (Ibr.: רוּחַ, ruwach), misalnya dalam penciptaan (Kej. 1:2), ketika mengubur Firaun dan pasukannya di dasar laut (Kel. 15:8, 10), dan sewaktu memulihkan kehidupan pada tulang-belulang yang berserakan (Yeh. 37:14). Secara khusus dalam restorasi Bait Suci di Yerusalem, Roh Allah itulah yang bekerja secara aktif membantu Zerubabel sampai usaha itu berhasil meski dalam kondisi serba kekurangan.

“Dari sudut pandang manusia, semua usaha dan sumberdaya yang tersedia bagi para pembangun itu tidaklah mencukupi. Namun, Firman Allah menjanjikan bahwa seorang raja tidak selamat oleh jumlah tentaranya ataupun oleh kehebatan kekuatannya yang besar (Mzm. 33:16). Dengan cara ini kepada para pemimpin diberitahukan bahwa hanya bilamana Roh itu yang memimpin maka setiap detil pelayanan dapat memuliakan Allah” [alinea keempat: tiga kalimat terakhir].

Janji Tuhan ini juga membersitkan amaran kepada kita, bahwa pekerjaan Tuhan pasti berhasil apabila para pelaksananya mengandalkan kuasa Roh Allah, tetapi sebaliknya akan gagal manakala para hamba Tuhan itu mengandalkan kemampuan diri sendiri atau sumberdaya manusiawi lainnya. ”Dalam kutipan ayat-ayat yang bersifat nubuatan ini orang-orang Kristen diberikan satu prinsip penting untuk diingat: Allah bisa saja memanggil kita untuk tugas-tugas yang sukar, tetapi melalui pekerjaan Roh-Nya Ia dapat menyelesaikan maksud-Nya (baca Flp. 2:13; 4:13). Oleh Roh Kudus, Allah menyediakan kuasa untuk melaksanakan pekerjaan-Nya sekarang seperti yang dilakukan-Nya dulu. Ini terlaksana bukan oleh kekuatan atau kehebatan manusia, tetapi oleh Tuhan yang bekerja melalui mereka yang bersedia digunakan oleh-Nya” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang janji keberhasilan dari Tuhan?

1. Sesungguhnya pasokan kuasa Allah untuk kesuksesan pekerjaan-Nya tidak pernah berhenti, tetapi seringkali oknum-oknum pelaksana pekerjaan Tuhan itulah yang menyumbat pasokan kuasa Tuhan. Sumbatan-sumbatan itu bisa berbentuk perbuatan, sikap, dan cara berpikir yang tidak senonoh.

2. Kesuksesan adalah kata yang sedap didengar dan membanggakan. Namun kesuksesan bisa menjadi jerat bagi siapa saja, termasuk dalam pekerjaan Tuhan. Bagi diri sendiri keberhasilan dapat memicu kesombongan, bagi orang lain itu dapat menimbulkan kecemburuan.

3. Sebagai manusia yang tak berdaya, anda dan saya sangat memerlukan bantuan kuasa Tuhan untuk mengerjakan apapun dalam hidup kita. Termasuk untuk menyelesaikan hal-hal biasa yang kita anggap sepele, karena kegagalan yang paling menyakitkan adalah gagal dalam soal kecil.

KAMIS: KESUNGGUHAN DALAM BERIBADAH (Melebihi Berpuasa)

Pembuangan di Babel. Masa pembuangan–sering disebut masa penawanan–orang Yehuda ke Babel telah dinubuatkan oleh nabi Yeremia dan lamanya adalah tujuh puluh tahun (Yer. 25:11; 29:10). Penawanan pertama terjadi tahun 607 SM ketika raja Nebukadnezar II dari Babilon menyerbu Yerusalem saat Yoyakim menjadi raja Yehuda (2Raj. 24:1; Dan. 1:1). Pemulangan pertama orang Yehuda kembali ke Yerusalem, dibawa pimpinan Sesbazar (Ezr. 1:8; 5:16), terjadi pada tahun 537 SM. Berdasarkan kurun waktu tersebut, 607-537 SM, yang meliputi masa pemerintahan dua kerajaan berbeda, Babilon dan Persia, kita menemukan nubuatan tentang jangka waktu penawanan selama 70 tahun itu digenapi. Harap diketahui bahwa sistem kalender Yahudi yang selalu diawali pada awal musim semi berdasarkan hukum Musa (Kel. 12:2; 13:3-4), dengan memperhitungkan “tahun-tahun sabat” (2Taw. 36:21), berbeda dari sistem kalender konvensional sehingga cara penghitungan bisa bervariasi.

Selama dalam pembuangan di Babel itu kebanyakan orang Yehuda bergumul dengan kerinduan untuk pulang ke kampung halaman mereka, meskipun ada sebagian yang tampaknya cukup betah di negeri perantauan oleh karena ikatan perkawinan dan keberuntungan nasib. Namun pada umumnya mereka ingin mudik untuk hidup di negeri sendiri dan menikmati kebebasan sembari mengolah tanah warisan. Untuk itu mereka mengadakan puasa massal beberapa kali dalam setahun, selain puasa wajib dalam bulan ketujuh untuk menyambut “Hari Pendamaian”–TL: “Hari Grafirat”–berdasarkan hukum Musa (Im. 23:27-28). Namun, karena melakukannya selama bertahun-tahun telah membuat kegiatan rohani istimewa ini menjadi rutinitas sehingga bagi banyak orang kehilangan renjana (emosi yang kuat) terhadap ritual tersebut. Tuhan menilai puasa mereka selama 70 tahun dalam pembuangan itu tidak bersungguh-sungguh, dan acara berbuka puasa hanyalah untuk memuaskan selera makan belaka (Za. 7:5-6). Hal serupa dapat dialami oleh umat Tuhan zaman ini, apabila acara-acara kebaktian yang terjadwal berjalan sebagai rutinitas dan menjadi lebih sebagai ajang bersosialisasi ketimbang beribadah.

Sekarang mereka sudah bermukim di negeri sendiri, bahkan pembangunan kembali Bait Suci sudah hampir rampung, dan mezbah persembahan kurban sudah terpasang dan siap untuk digunakan bagi upacara-upacara agama. Masih perlukah berpuasa untuk maksud yang sudah tercapai? Dalam konteks umat Tuhan masa kini, apakah kita masih perlu berdoa dan berpuasa untuk memohon Tuhan memenuhi keperluan-keperluan kita, jika apa yang kita minta dari Tuhan semuanya sudah terpenuhi? Masih perlukah berdoa dan berpuasa setelah lulus ujian sekolah, lolos saringan masuk perguruan tinggi, atau sudah diterima untuk bekerja? “Karena masa pembuangan sekarang sudah berakhir dan pembangunan Bait Suci hampir rampung, orang banyak itu bertanya-tanya apakah masih perlu berpuasa pada bulan kelima” [alinea pertama: kalimat terakhir].

Belajar dari pengalaman masa lalu. Tuhan tidak menjawab pertanyaan bangsa itu perihal perlu-tidaknya melanjutkan kebiasaan berpuasa secara ekstra seperti waktu di Babel, sebaliknya berpesan kepada umat Yehuda itu agar tidak mengulangi kesalahan generasi-generasi sebelumnya. Firman-Nya melalui nabi Zakharia, “Laksanakanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kesetiaan dan kasih sayang kepada masing-masing! Janganlah menindas janda dan anak yatim, orang asing dan orang miskin, dan janganlah merancang kejahatan dalam hatimu terhadap masing-masing” (Za. 7:9-10). Ketidakpatuhan pada hukum Allah, melecehkan amaran Tuhan, dan penindasan terhadap sesama adalah dosa-dosa utama yang dilakukan oleh nenek moyang bangsa itu sehingga telah mendatangkan hukuman pembuangan yang menyakitkan itu.

“Jawaban Allah melalui Zakharia adalah rangkap dua: pertama, adalah penting bahwa umat Tuhan mengingat masa lalu supaya mereka tidak mengulanginya. Tuhan telah mengamarkan para leluhur bahwa Ia mengharapkan mereka untuk hidup dalam keyakinan dan ketaatan. Pembuangan itu adalah hukuman bagi pemberontakan mereka yang berkanjang. Jadi, bangsa itu diperintahkan untuk belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu. Kedua, Tuhan tidak bersuka dengan kelaparan manusia. Apabila mereka berpuasa dan merendahkan diri di hadapan Allah, pertobatan dan kerendahan hati itu perlu dipantulkan melalui apa yang mereka lakukan” [alinea kedua: enam kalimat pertama].

Melalui nabi Zakharia, Tuhan mengajarkan kepada umat-Nya apa yang Dia sukai dan tidak sukai dari mereka. Allah ingin umat-Nya agar tetap percaya dan taat, berhati bersih, serta menunjukkan kasih-sayang kepada sesama manusia. Sebaliknya, Allah tidak suka umat-Nya menjadi orang-orang yang takabur, keras hati (berkanjang), dan cinta diri. Keberagamaan adalah masalah hubungan pribadi, secara vertikal antara kita dengan Tuhan, dan secara horisontal antara kita dengan sesama manusia.

Apa yang kita pelajari tentang berpuasa sebagai praktik peribadatan?

1. Berdoa sambil berpuasa adalah cara yang diajarkan oleh Kitabsuci untuk memberi bobot lebih pada permohonan kita kepada Tuhan. Yesus mengajarkan bahwa cara berpuasa yang benar adalah menjauhkan sikap kepura-puraan dan harus bersifat pribadi (Mat. 6:17-18).

2. Para rasul di abad pertama mempraktikkan ibadah berdoa dan berpuasa dalam upacara penyerahan orang-orang yang dipisahkan untuk pelayanan pekerjaan Tuhan (Kis. 13:2-3; 14:23). Yesus sendiri berdoa dan berpuasa selama 40 hari menjelang diri-Nya dicobai (Mat. 4:1-3).

3. Namun ada bentuk peribadatan yang melebihi dari berdoa dan berpuasa, yaitu kasih kepada Tuhan dan kepada sesama manusia. Ungkapan kasih kita kepada Tuhan diperlihatkan dengan ketaatan dan pengorbanan, ungkapan kasih kepada sesama ditunjukkan dengan pelayanan dan kepedulian.

JUMAT: PENUTUP

Kristus Pembela kita. Imam besar Yosua yang dalam penglihatan nabi Zakharia itu tampil di hadapan Allah mengenakan pakaian kotor oleh noda-noda dosa, sambil dirinya dituding-tuding oleh Setan yang mendakwanya, secara tepat melambangkan kondisi anda dan saya. Gambaran itu utuh karena di sana ada Yesus Kristus yang dilambangkan oleh “malaikat Tuhan” berdiri selaku Pembela bagi Yosua. Suasana itu memberi jaminan kebebasan dan keselamatan bagi anda dan saya.

“Dengan kekuatannya sendiri, manusia tidak dapat menghadapi tuduhan-tuduhan musuh itu. Dengan pakaian yang bernoda dosa, sambil mengakui kesalahannya, dia berdiri di hadapan Allah. Tetapi Yesus, Pembela kita, mengajukan suatu argumentasi yang manjur atas nama semua orang yang oleh pertobatan dan iman telah menyerahkan pemeliharaan jiwa mereka kepada-Nya. Ia membela perkara mereka, dan dengan argumen yang kuat tentang Golgota menaklukkan pendakwa mereka” [alinea kedua: tiga kalimat pertama].

Mengandalkan kemampuan diri sendiri hanyalah memastikan ketidakpastian, tetapi berserah pada kuasa kebenaran Kristus adalah memastikan keselamatan kita. Sekalipun penyerahan diri kepada Yesus Kristus tidak berarti perjalanan hidup anda lantas menjadi rata dan mulus, namun jalan yang berbatu itu pasti membawa anda sampai ke tujuan. Kasih karunia Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan yang menjamin anda dan saya menerima kemuliaan Allah.

“Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm. 5:2-5).

Oleh: Loddy Lintong

TERPOPULER dan TERBARU:
KEBENCIAN SETAN TERHADAP HUKUM
Kebencian Setan Terhadap Hukum “Dengarkanlah Aku, hai kamu yang mengetahui apa yang benar, hai bangsa yang menyimpan pengajaran-Ku dalam hatimu! Janganlah...
UMAT ALLAH YANG ISTIMEWA
"UMAT ALLAH YANG ISTIMEWA (MIKHA)" Sabat Petang PENDAHULUAN Apa yang dituntut Allah. Mikha berasal dari Moresyet, sekitar 40 Km baratdaya Yerusalem,...
Kasih dan Penghakiman (Hosea)
Kasih dan Penghakiman: Dilema Allah (Hosea) Sabat Petang Bacalah Untuk Pelajaran Pekan Ini: Hos. 7:11,12; 10:11-13; Mal. 11:28- 30; Rm. 5:8; 1 Ptr....
Umat Istimewa Allah
Umat Istimewa Allah (Mikha) Sabat Petang PENDAHULUAN Bacalah Untuk Pelajaran Pekan Ini: Mi. 1:1-9; 2 Kor. 11:23-27; Mi. 2:1- 11; 5:2; 6:1-8; 7:18-20. Ayat...
MEYAKINI KEBAIKAN ALLAH
"MEYAKINI KEBAIKAN ALLAH (HABAKUK)" Sabat Petang PENDAHULUAN Menunggu Tuhan bertindak. Apa yang anda rasakan ketika menonton siaran TV atau membaca...
ALLAH untuk SEMUA BANGSA (AMOS)
ALLAH untuk SEMUA BANGSA (AMOS) Sabat Petang Bacalah Untuk Pelajaran Pekan ini : Amos 1-2; Yes. 58; Luk. 12:47,48; I Raj. 8:37-40; Amos 4:12,13;...
JANJI DOA
"JANJI DOA" Sabat Petang PENDAHULUAN Doa adalah salah satu karunia Allah bagi manusia yang sangat penting. Manusia selalu mempunyai rasa kebutuhan...
INGIN SEKALI MENGAMPUNI (NABI YUNUS)
"INGIN SEKALI MENGAMPUNI (NABI YUNUS)" PRAWACANA: Sebagian orang menganggap bahwa kitab Yunus hanyalah sebuah cerita kiasan atau alegori (khususnya bagi...
RENUNGAN PAGI “KABAR BAIK DARI PATMOS” – 10 MEI 2013
RENUNGAN PAGI “KABAR BAIK DARI PATMOS” - 10 MEI 2013 ".....Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "BERAPA LAMAKAH LAGI, YA PENGUASA yang...
“KASIH DAN PENGHAKIMAN: DILEMA ALLAH (HOSEA)”
"KASIH DAN PENGHAKIMAN: DILEMA ALLAH (HOSEA)" Sabat Petang PENDAHULUAN Metafora. Kita sudah pernah pelajari dalam pelajaran beberapa pekan lalu...
renungan harian
RENUNGAN PAGI “KABAR BAIK DARI PATMOS” – 8 MEI 2013
Tuhan Pencipta Bumi
PENCIPTAAN, SEBUAH TEMA ALKITABIAH