PERNIKAHAN: KARUNIA DARI EDEN

pernikahan

PERNIKAHAN: KARUNIA DARI EDEN

Pernikahan

PERNIKAHAN: KARUNIA DARI EDEN

SABAT PETANG

BACA UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: Kej. 2:18-25; Mrk. 10:7-9; Ef. 5:22-25; Mat. 5:27-30; 2 Kor. 3:18.

AYAT HAFALAN: “TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.  Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia’” (Kejadian 2:18).

Pikirkanlah berkat-berkat pernikahan bahagia dan rumah tangga yang penuh kasih.  Betapa beruntungnya mereka yang memiliki pengalaman seperti itu! Sayangnya, bagi begitu banyak orang, pernikahan telah menjadi pengalaman yang paling sering penuh rasa sakit dan kemarahan bukannya sukacita dan perdamaian.  Bukan demikian maksud dan tujuan pernikahan.  Keadaan yang menyedihkan dari begitu banyak pernikahan adalah ekspresi kuat dari kemerosotan yang telah disebabkan oleh dosa kepada umat manusia.

“Tuhan melangsungkan pernikahan yang pertama.  Dengan demikian lembaga pernikahan itu berasal dari Khalik alam semesta.  ’Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan’ (Ibr. 13:4); itu adalah salah satu pemberian Tuhan yang pertama kepada manusia, dan itu adalah salah satu dari dua lembaga yang sesudah kejatuhan dalam dosa, dibawa oleh Adam keluar pintu gerbang Firdaus.  Bilamana prinsip-prinsip Ilahi ditaati dan diperhatikan dalam hubungan ini, maka pernikahan adalah suatu berkat; itu akan menjaga kesucian dan kebahagiaan manusia, itu akan memenuhi  kebutuhan-kebutuhan sosial  manusia, itu akan meninggikan keadaan jasmani, pikiran serta moral.”—-Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 1, hlm. 38.

Betapa suatu cita-cita yang indah.  Pelajaran pekan ini melihat pada beberapa prinsip di belakangnya.

MINGGU

LO TOV (TIDAK BAIK)

Dari sejak permulaan Allah menciptakan dunia kita melalui kuasa adikodrati dari Firman-Nya.  Sepanjang cerita penciptaan, semuanya “baik” sampai pekerjaan itu selesai, pada saat mana semua yang Tuhan telah ciptakan disebut “sungguh amat baik” (Kej. 1:31).

Namun di tengah semua ini, ada satu hal yang lo tov, “tidak baik.” Baca Kejadian 2:18.  Apakah yang “tidak baik,” dan mengapa?  Apa sajakah implikasi dari ayat ini?

Kejadian 2:18

2:18. TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

   Tuhan telah menyatakan semua aspek penciptaan itu “baik” sampai pada Dia menciptakan Adam.  Pada waktu itu, Adam adalah satu-satunya manusia.  Meskipun ia diciptakan menurut gambar Allah, dalam kesendiriannya, ia tidak bisa mencerminkan citra penuh dari Allah, yang ada dalam hubungan dengan pihak lain dalam Ketuhanan.  Ketuhanan, tentu saja,  terdiri dari Bapa, Putra, dan Roh Kudus.  Dengan demikian, Adam membutuhkan seseorang seperti dirinya dengan siapa ia bisa membentuk suatu hubungan yang saling mengasihi dan bekerja sama, yang mencerminkan hubugan kasih yang dicontohkan dalam diri Allah.

Baca Kejadian 2:19-21.  Setelah tindakan apakah kemudian Allah membuat Adam tertidur dan kemudian, dari dagingnya, Allah menciptakan seorang istri?  Bagaimanakah tindakan sebelumnya dapat dihubungkan dengan Allah menciptakan seorang istri bagi Adam?

Kejadian 2:19-21

2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

2:21. Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

Mungkin kuncinya di sini ditemukan di frasa terakhir dari ayat 20.  Saat ia menamai binatang-binatang, Adam tentunya menyadari bahwa mereka datang berpasangan, jantan dan betina, tidak seperti dirinya, yang adalah ciptaan tunggal.  Kita dapat yakin bahwa Tuhan bermaksud untuk Adam memiliki  seorang istri.  Mungkin Tuhan bermaksud untuk menciptakan suatu kerinduan pada Adam, perasaan bahwa ada sesuatu yang hilang dalam keberadaannya sendiri, yang akan membuatnya jauh lebih menghargai karunia yang Tuhan akan berikan kepadanya yaitu seorang istri.

Perhatikan perbedaan antara “baik” pada ciptaan lainnya, dan ungkapan “tidak baik” dalam hal kesendirian Adam.  Apakah ini menunjukkan tentang nilai hubungan?  Apakah yang dapat Anda lakukan untuk membantu memperkuat hubungan berharga apa pun di mana Anda terikat di dalamnya sekarang?

SENIN

SEORANG PENDAMPING BAGI ADAM

Kejadian 2:20, menceritakan tentang Adam memberi nama hewan-hewan, membantu untuk mengungkapkan kesenjangan yang besar antara manusia dan makhluk duniawi lainnya.  Tidak ada hewan yang sebanding dengan Adam.  Bahkan di antara kera tidak ada mahkluk seperti Adam, karena Adam tidak seperti kera.  Ini adalah pokok penting untuk kita ingat karena begitu banyak dalam masyarakat kita yang mengemukakan ide bahwa manusia tidak lebih daripada kera yang sudah maju.  Kita bukan kera, kera tidaklah cocok sebagai pendamping bagi Adam seperti juga bagi salah satu dari kita.

Baca Kejadian 2:21, 22.  Makna apakah yang ditemukan dalam metode yang digunakan Allah untuk menciptakan pendamping bagi Adam?

Kejadian 2:21, 22

2:21. Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

Sebagaimana Allah secara pribadi membentuk tubuh Adam dari debu tanah, demikian pula Dia secara pribadi membentuk tubuh Hawa, menggunakan salah satu rusuk Adam sebagai titik awal.  Sebuah tulang rusuk bukanlah seluruh tubuh, dengan demikian, Allah menggunakan bahan tambahan untuk melengkapi tubuh Hawa.  Mungkin Dia membuat tubuh Hawa dari debu juga, seperti halnya Dia membuat tubuh Adam.  Allah tidak membutuhkan tulang rusuk Adam untuk menciptakan Hawa, Dia bisa saja menciptakan Hawa seperti menciptakan Adam atau bahkan berfirman sehingga Hawa menjadi ada.

Tetapi Allah punya alasan untuk menggabungkan salah satu rusuk Adam ke dalam tubuh Hawa.  Jika keduanya telah dibuat sepenuhnya terpisah, dapat menunjukkan bahwa secara alamiah mereka adalah individu yang benar-benar terpisah.  Tapi pembagian daging pada keduanya menunjukkan bahwa keduanya ditakdirkan untuk bersatu dan dimaksudkan untuk menjadi “satu daging.”

Setelah diciptakan, Hawa dibawa kepada Adam untuk menjadi penolongnya (ayat 18).  Dia diciptakan dari Adam (ayat 22) dan diberikan kepada Adam (ayat 22).  Proses di mana Allah menciptakan Hawa menunjukkan dengan jelas bahwa Allah dapat memberikan pendamping yang dibutuhkan Adam.  Hal ini menjadi penting kemudian ketika Adam menghadapi godaan apakah akan bergabung dengan Hawa memakan buah atau mempercayai Tuhan untuk mengatasi keadaan.  Adam memiliki cukup alasan untuk percaya bahwa Allah bisa menjaganya, dan ini membuat dosanya semakin pedih.

Baca Kejadian 2:23.  Apakah respons Adam terhadap Hawa?

Kejadian 2:23

2:23 Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”

   Adam begitu gembira ketika ia melihat Hawa sehingga ia bernyanyi dalam puisi.  Ini adalah puisi pertama dalam Alkitab dan mencerminkan penghargaan Adam untuk istrinya dan kedekatan hubungan mereka.  Dia menjadi padanannya, aspek lain dari penciptaan yang rusak oleh kejatuhan.

SELASA

PERNIKAHAN IDEAL

   Penulis William Faulkner pernah menyebut pernikahan suatu “kegagalan” dan menulis bahwa “satu-satunya cara untuk mendapatkan kedamaian dari padanya adalah… menyimpan yang pertama [istri] dan menjauhkan diri dari dia sebisa mungkin, dengan harapan suatu hari dapat menyingkirkan dia.”  Sungguh suatu komentar menyedihkan tentang keadaan dari banyak pernikahan.

Baca Markus 10:7-9.  Ayat apakah yang Yesus kutip pada bagian ini?  Apakah ciri-ciri pernikahan yang baik dapat ditemukan dalam kata-kata Yesus di sini?

Markus 10:7-9

10:7 sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,

10:8 sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.

10:9 Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Manfaat meninggalkan orangtua dalam rangka menciptakan sebuah rumah tangga dengan pasangannya sudah sangat dikenal sehingga hampir tidak perlu disebutkan.  Masalah dengan mertua adalah salah satu penyebab utama perselisihan rumah tangga.  Salah satu langkah pertama yang perlu diambil ketika membangun rumah tangga yang bahagia adalah menghormati kemerdekaan pasangan pernikahan dengan mendirikan rumah yang terpisah dari orangtua mereka ketika keadaan memungkinkan.  Dalam kasus ketika hal itu tidak mungkin, maka privasi/rahasia dan keintiman pernikahan tetap harus dihormati.

Kesatuan adalah ciri lain dari suatu pernikahan yang baik.  Kesatuan tidak berarti bahwa kedua pasangan harus memasrahkan penggunaan otak mereka yang terpisah, tetapi mereka harus bersatu dalam tujuan mereka untuk melakukan yang terbaik untuk satu sama lain dan untuk kesatuan mereka.

Yesus juga menekankan sifat kekekalan pernikahan.  Pernikahan bukanlah hubungan biasa yang dibentuk atau dibubarkan sesuai kemauan.  Ini adalah komitmen seumur hidup.  Mereka yang tidak siap untuk berkomitmen seumur hidup harus menunda langkah tersebut sampai mereka siap.

Baca Efesus 5:22-25.  Dalam hal apakah ayat-ayat ini mengungkapkan prinsip-prinsip pernikahan yang baik?

Efesus 5:22-25

5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,

5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.

5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.

5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya

Adakah hak istimewa suami untuk menyerahkan dirinya kepada istrinya dalam pelayanan yang penuh kasih, sebagaimana Kristus menyerahkan diri-Nya untuk jemaat.  Pada gilirannya, istri harus menghormati suami dan bekerja sama dalam pekerjaan mereka untuk mencapai tujuan bersama. Inilah solusi untuk perselisihan yang telah dibawa oleh dosa ke dalam hubungan pernikahan.  Kasih yang real berkorban dibalas dengan penghormatan kasih dan kebahagiaan bersama.  Rumah tangga kita bisa menjadi pendahuluan surga.

RABU

MELINDUNGI APA YANG BERHARGA

   Salah satu contoh terbesar dari Kasih Allah bagi umat manusia dapat ditemukan dalam seksualitas manusia.  Ini benar-benar merupakan karunia yang indah dari Tuhan.  Namun, sebagaimana dengan semua karunia yang telah diberikan kepada kita, itu tidak datang tanpa syarat.  Artinya, itu bukan sesuatu yang kita bisa lakukan dengan sekehendak hati kita.  Allah telah menetapkan beberapa aturan.  Memang, Dia sangat jelas menyatakan, bahwa aktivitas seksual hanya terjadi antara suami dan istri, pria dan wanita, dan hanya dalam konteks pernikahan.  Apa pun di luar itu adalah dosa.

Baca Matius 5:27-30.  Lihatlah betapa seriusnya Yesus memandang masalah yang sedang Dia tangani di sini.  Pada akhirnya, apakah yang dipertaruhkan?

Matius 5:27-30

5:27. Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.

5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

5:29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.

5:30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Betapa hebat pun kita ingin fokus (dan memang demikian) pada semua kasih karunia dan pengampunan yang Yesus limpahkan kepada orang berdosa, kita tidak bisa melupakan standar moralitas yang tinggi yang Dia hidupkan dan khotbahkan.  Sulit membayangkan bagaimana Yesus dapat memberikan amaran yang lebih kuat terhadap percabulan lebih daripada yang terungkap dalam rankaian ayat ini.  Mencungkil mata Anda?  Memotong tangan Anda?  Jika ini  yang diperlukan untuk menjadi suci, maka hal itu pantas; jika tidak, Anda berada dalam bahaya kehilangan hidup kekal Anda.

“Jika semua yang mengaku taat kepada hukum Allah bebas dari kesalahan, maka jiwaku akan terbebas, tetapi tidak demikian.  Bahkan beberapa orang yang mengaku memelihara semua perintah-perintah Allah pun bersalah karena dosa perzinaan.  Apakah yang bisa saya katakan untuk membangkitkan perasaan mereka yang telah kebal?  Prinsip moral, bila benar-benar dilakukan, menjadi satu-satunya pelindung jiwa.”—-Ellen G. White, Counsel on Health, hlm. 621, 622.

Betapapun kerasnya peringatan Yesus di sini, kita tidak boleh lupa akan cerita tentang wanita yang tertangkap basah sedang berzina (Yoh. 8:1-11).  Bagaimanakah kita menyeimbangkan antara penegakan standar yang Yesus bicarakan dalam ayat di atas, sementara pada saat yang sama menunjukkan rahmat dan kasih sayang kepada mereka yang jatuh, sebagaimana terungkap dalam cerita ini?

KAMIS

PERNIKAHAN SEBAGAI METAFORA GEREJA

Sudah sangat dikenal di kalangan pelajar Alkitab bahwa baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru pernikahan digunakan sebagai simbol hubungan antara Allah dan umat perjanjian-Nya.  Itu sebabnya, misalnya, pada berbagai kesempatan Alkitab menggunakan gambaran seorang perempuan yang tidak setia untuk melambangkan kemurtadan yang terjadi di Israel kuno.  Sebagai contoh, kembali kepada Keluaran, Tuhan berkata kepada umat-Nya bahwa mereka seharusnya tidak menjalin hubungan dekat dengan orang-orang kafir di sekitar mereka karena orang-orang kafir adalah orang yang sangat jahat yang bisa menyesatkan bangsa Israel.

Baca Keluaran 34:15, 16.  Apakah gambaran yang digunakan Tuhan dalam amaran khusus ini?  Bagaimanakah hal ini dapat dipahami dalam konteks umat Allah sebagai orang yang “dinikahkan” dengan Dia? Lihat Yer. 3:14.

Keluaran 34:15, 16

34:15 Janganlah engkau sampai mengadakan perjanjian dengan penduduk negeri itu; apabila mereka berzinah dengan mengikuti allah mereka dan mempersembahkan korban kepada allah mereka, maka mereka akan mengundang engkau dan engkau akan ikut makan korban sembelihan mereka.

34:16 Apabila engkau mengambil anak-anak perempuan mereka menjadi isteri anak-anakmu dan anak-anak perempuan itu akan berzinah dengan mengikuti allah mereka, maka mereka akan membujuk juga anak-anakmu laki-laki untuk berzinah dengan mengikuti allah mereka

Yer. 3:14

3:14 Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman TUHAN, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion.

Pada saat yang sama, citra gereja sebagai mempelai Kristus menunjuk kepada persatuan antara sesama orang percaya dan dengan Kristus, terutama ketika dipahami dalam konteks cita-cita Alkitab untuk pernikahan; seorang pria dan seorang wanita dalam hubungan yang penuh kasih dan pengorbanan diri.

Baca Efesus 5:28-32 dan Wahyu 19:5-9.  Apakah yang diajarkan oleh ayat ini?

Efesus 5:28-32

5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.

5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,

5:30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya.

5:31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

5:32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.

 Wahyu 19:5-9

19:5. Maka kedengaranlah suatu suara dari takhta itu: “Pujilah Allah kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar!”

19:6 Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.

19:7 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

19:8 Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.)

19:9 Lalu ia berkata kepadaku: “Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba.” Katanya lagi kepadaku: “Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.”

Pada ayat-ayat ini, hubungan dalam pernikahan yang ideal diperbandingkan dengan hubungan Allah dan umat-Nya.  Allah mengajak umat-Nya untuk bergabung dengan Dia dalam hubungan yang intim.  Ini merupakan gambaran yang menakjubkan perihal kepedulian Allah terhadap umat-Nya dan keinginan-Nya untuk membawa kita ke dalam persekutuan-Nya.

Apakah pilihan yang dapat Anda lakukan yang akan menarik Anda lebih dekat kepada Tuhan dan lebih dekat dengan cita-cita yang dilukiskan dalam konsep pernikahan Alkitabiah?  Mengapa hal itu merupakan soal pilihan yang Anda, dan hanya Anda sendiri, yang bisa melakukannya?

JUMAT

PENDALAMAN: Dalam banyak hal, pemahaman yang tepat tentang moralitas, terutama moralitas seksual, jelas terkait dengan pemahaman yang tepat tentang asal-usul kita.  Sebagai contoh: Filsafat evolusi tidak memberikan dasar yang objektif untuk adanya hubungan antara aktivitas seksual dan moralitas.  Hewan memiliki berbagai jenis “sistem kawin.”  Beberapa spesies poligami, banyak yang sembarangan saja, hanya sedikit yang monogami, namun studi genetik telah mengungkapkan bahwa banyak spesies yang tampaknya monogami sebenarnya tidak begitu.  Pada banyak spesies, seekor betina dapat melahirkan sekelompok anak yang tidak semua berayahkan individu yang sama.  Tanpa standar moralitas objektif yang diberikan oleh Sang Pencipta, kita tidak akan memiliki dasar untuk mengevaluasi perilaku seksual apakah baik atau buruk secara moral.  Dorongan saat ini untuk menyetujui pasangan homoseksual menggambarkan hal ini.  Hanya dalam terang penciptaanlah pernikahan itu dapat dipahami dengan benar.

“Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, hubungan pernikahan digunakan untuk mengibaratkan persatuan yang manis serta suci yang ada antara Kristus dan umat-Nya.  Bagi pikiran Yesus kegembiraan dalam keramaian pernikahan menunjuk jauh kepada kegembiraan hari itu apabila kelak Ia membawa mempelai perempuan-Nya ke rumah Bapa-Nya, maka yang ditebus itu bersama-sama dengan Penebus-Nya duduk dalam perjamuan nikah Anak Domba itu.”—-Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 150.

SEKOLAH “SATU” PEKAN MERUPAKAN SERI PELAJARAN ALKITAB SELAMA SATU PEKAN(MINGGU) YANG DISUSUN PERHARI DENGAN TUJUAN AGAR KITA DAPAT BELAJAR FIRMAN TUHAN SETIAP HARI.

Baca pelajaran yang lain dalam kategori Sekolah Alkitab “satu” Pekan atau kembali ke halaman depan Firman-Tuhan(.org).

TERPOPULER dan TERBARU:
Pacaran Sesuai Dengan Firman Tuhan
Pacaran Sesuai Dengan Firman Tuhan Tujuan pacaran Pada dasarnya pacaran merupakan proses pengenalan antara pria dan wanita yang berada dalam rangkaian...
SUAMI ISTRI MAKNA SETIA
SUAMI ISTRI ”MAKNA SETIA” Didalam Pernikahan kristen,  Pernikahan dibangun di atas janji/sumpah setia  yakni untuk menjadi seperti yang diharapkan...
PASANGAN YANG RAWAN PERTENGKARAN
PASANGAN YANG RAWAN PERTENGKARAN I Petrus3:9 “Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya,...
BUTUH TEMAN HIDUP
Butuh Teman Hidup   Neil Anderson & Charles Mylander dalam bukunya   The Christ-Centered Marriage, mengatakan seperti ini “Laki-laki...
PERGAULAN MUDA-MUDI KRISTEN
PergauLan Muda-mudi Kristen   PerGauLan Pada Umumnya.......... Manusia diciptakan bukan saja sebagai makhluk individu, tetapi juga sebagai...
PRINSIP MENYAMPAIKAN TEGURAN DALAM GALATIA 6:1
PRINSIP MENYAMPAIKAN TEGURAN DALAM GALATIA 6:1 Galatia 6:1  “ Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang...
PENCIPTAAN dan INJIL
PENCIPTAAN dan INJIL  SABAT PETANG BACA UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: Kej. 3:21; Mzm. 104:29, 30; Yoh. 1:4; Rm. 5:6-11; Gal. 3:13; Mat. 27:46. AYAT...
PENCIPTAAN, SEBUAH TEMA ALKITABIAH
"PENCIPTAAN, SEBUAH TEMA ALKITABIAH" SABAT PETANG PENDAHULUAN Kalau bukan karena percaya bahwa Allah adalah Penciptalangit dan bumi beserta segala...
ENAM KESALAHAN ORANG TUA DALAM MANGASUH ANAK
6 Kesalahan Orang Tua Dalam Mengasuh Anak Amsal 29:17 Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu. Salah...
ANAK DOMBA ITU MEMBUKA YANG PERTAMA DARI KETUJUH METERAI ITU
Renungan Pagi Hari Ini -- "Kabar Baik dari Patmos" oleh Jon Paulien, 29 April 2013 "Maka aku melihat ANAK DOMBA ITU MEMBUKA YANG PERTAMA DARI KETUJUH...
Penciptaan dan Injil
PENCIPTAAN dan INJIL
Pergaulan
ETIKET BERGAUL